Tulisan kali ini tentang perjalananku bersama suami ke sebuah desa di perbatasan Nganjuk Madiun tepatnya di Desa Batok kecamatan Gemarang. Secara khuhus aku bermain agak lama di dusun Sekluweng. Ya dusun ini kali pertama aku kunjungi, kalau desa Batok aku sudah pernah menginjakkan kaki di tempat ini saat awal awal pindah mengikuti suami ke Madiun. Desa ini memang memiliki banyak dusun yang pernah menjadi daerah dampingan pada pekerjaan suami beberapa tahun silam. Ikatan emosional yang baik dengan warga membuat suami cukup dikenal dan diingat walaupun sudah cukup lama tidak bertugas di desa tersebut. Kondisi inilah yang akhirnya menjadi berkah bagiku sebagai istrinya yang secara 'emosional' cukup menyukai daerah pegunungan serupa kecamatan Gemarang ini. 
Sangat antusias ketika suami mengatakan mengajak silaturahim ke dusun Sekluweng yang selama ini sering diceritakan tentang kekerabatan yang baik dengan warga setempat. Ada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang dikenal baik dan selayaknya saudara sering diceritakan kepadaku. Ada warga juga yang pada akhirnya berkenan melanjutkan pendidikan hingga sekolah menengah atas di tengah tradisi masyarakat yang kurang memandang penting arti pendidikan bagi anak-anaknya. Aku ingin sekali melihat realitas kehidupan masyarakat di sana, mengapa tampak begitu tidak mudah melihat arti penting pendidikan. Pada kunjungan pertama di awal kepindahanku ke Madiun, kami memang tidak bisa ke dusun ini karena keluarga yang selayaknya saudara itu sedang berada di kota kelahirannya. Kami urung berkunjung ke Dusun Sekluweng tapi sempat mengunjungi beberapa dusun lain di desa Batok. Saat itu sedang musim durian dan kami memang pesan. Aku pulang dengan seabrek durian, rempah dan bunga. 

Nah, pada awal September lalu pak suami melihat status WA dari salah satu warga desa Batok yang saat itu menjadi KPM (Keluarga Penerima Manfaat) sedang menawarkan apukat. Ketika suami cerita dan tanya apakah aku mau diajak 'naik' lagi ke Gemarang, tentu aku sangat senang dan menyetujui. Sekalian aku  memesan apukat beberapa kilogram kepada KPM tersebut. Kelar pesan apukat, suami mencoba menghubungi keluarga yang saat itu belum sempat aku kunjungi. Keluarga yang sering menyuguhkan masakan sayur cabe, dan tampak begitu berkesan di mata suami. Aku tentu ingin tahu. Alhamdulillah, kabar baik yang kami terima. Kami dipersilakan datang. 

Setelah beberapa agenda kerja suami diselesaikan, hari itu kami berangkat menuju Gemarang. Perjalanan pertama pada bulan Maret 2021 lalu, suami ingin memberitahuku jalan pintas menuju desa Batok, yang selama bertugas di sana selalu dilaluinya. Sebuah jalan yang tidak bisa kusebut layak, karena berada di tengah hutan dan hanya serupa bebatuan gunung yang ditata sedemikian rupa jika tidak 'tatag' bersepeda akan berakhir dengan jatuh atau bahkan tersungkur di rerimbun belukar. Korban saat itu adalah sandal gunungku, karena aku takut dibonceng. Aku memaksan turun dan ternyata malah terpeleset yang menyebabkan sandalku menemui ajalnya.
Perjalanan kali ini, suami mengajak melintasari jalan raya yang bagus walaupun harus  memutar karena desa Batok ini wilayahnya melingkar pegunungan seperti huruf U. Desa ini berada di kaki pegunungan Wilis. Nah jalan di hutan yang kami lalui pada bulan Maret itu langsung 'memangkas' jalur sehingga bisa langsung masuk desa Batok dan beberapa dusun tanpa harus memutar. Jalanan yang kami lalui jelas berbeda. 

Setibanya di Sekluweng, suami menitipkan sepeda kami di depan rumah warga. Betapa hebohnya ketika mereka tahu bahwa yang menitipkan sepeda itu ada mantan pendamping PKH di tempat mereka. Otomatis kami terhenti di rumah tersebut yang sebenarnya bukan rumah yang menjadi tujuan kami. Berbagi kabar dan tentu aku hanya bisa mendengarkan ketika mereka saling berbincang dengan suami mengenai banyak hal. Tentang kondisi keluarga masing-masing, anak-anak mereka yang melanjutkan sekolah, ke pesantren dan juga tentang anggota keluarga yang telah pergi selamanya. Ya, suamiku memang tidak pernah datang ke dusun itu sejak tidak lagi bertugas di sana. Keluhan-keluhan tentang apa yang tengah ramai diperbincangkan saat ini terkait PKH. Tentunya suami hanya bisa menjelaskan sebaik-baiknya tentang aturan baru yang saat ini berlaku, bukan lagi aturan seperti saat suamiku masih bertugas di sana. 
Kehebohan beberapa orang yang melihat kedatangan suami, membuat mereka juga 'berlomba' memberi oleh-oleh khas desa yang mereka miliki. Aku yang baru mereka kenal juga disambut dengan baik. Terlebih setelah suami bilang kalau aku suka banget bermain di kebun. Seorang ibu yang rumahnya ditempati mengupas singkong bahan gaplek, langsung mengajakku ke kebunnya. Di kebun beliau bercerita banyak tentang kebun hasilnya. 
MasyaAllah ...aku disuguhi kebun dengan aneka macam tanaman. 

Singkong yang diberi warga, aku masak menjadi singkong keju. Tentu aku bisa berbagi ke orang lain dengan pemberian mereka ini. Ada banyak orang tersenyum karena pemberian sederhana ini. Singkong  merekah indah seolah mengabarkan bahwa yang memberi dan juga yang menerima tengah tersenyum bahagia. 

Gori, tewel atau nangka muda yang diberi warga desa juga kumasak yang akhirnya bisa dinikmati oleh banyak orang. Karena diberi dua buah nangka muda, maka aku memasaknya dua kali. Masakan pertama aku khususkan untuk berbagi pada Rabu berkah. Beras yang diberi tetangga, gori yang diberi warga desa tinggal aku membeli lauknya. Jadilah nasi bungkus yang kuletakkan di tempat-tempat box "nasi gratis". Nangka muda satunya aku masak dan kubagi untuk  kelaurga serta tetangga. Ya ada banyak cara untuk melanjutkan kebaikan, menularkan senyum yang terpahat di setiap wajah. 

Daun lidah buaya ini aku manfaatkan untuk perawatan diri. Di desa tidak banyak warga yang memanfaatkan lidah buaya sekadar dijadikan tanaman yang menghiasa halaman rumah saja. 

Lalu, mereka juga memberi tepung gaplek yang cukup banyak. Ya, masih berupa tepung dari gaplek. Artinya aku harus bisa mengolahnya sehingga bisa menjadi tiwul dan bisa dinikmati. 
"Mbake saget ngolahe to?" tanya mereka. 
Aku tersenyum lebar dan menjawab dengan yakin bahwa aku bisa. 
"Nggih to..saestu saget? Nginteri nggih saget?" tanya ibu-ibu yang ada di depanku seolah tidak yakin bahwa perempuan model diriku ini bisa mengolah tepung gaplek menjadi tiwul. 
"InsyaAllah saget, Bu." jawabku yakin seyakin bahwa matahari akan terbit esok pagi. Di benakku ada lintasan toh ini sekadar ilmu sederhana, jika gagal tidak akan berakibat fatal. Mungkin ya jadi bubur gitu saja hahaha. 
"Gadah tampah damel nginteri?" tanya mereka lagi. Aku menjawab bahwa aku punya tampah tapi yang dari plastik, bukan yang dari bambu. "Mboten napa-napa, Bu, gampang nanti." ujarku meyakinkan mereka bahwa aku pasti bisa menikmati tiwul dari tepung gaplek yang mereka berikan. 
"Niki tepung rade lami, Mbak. Mangke dipun rendem rumiyin nggih." pesan salah satu yang memberi. Sedang yang lainnya bilang kalau tepung gapleknya masih baru. 

Dan penampakan di atas adalah hasil karyaku kali pertama mengolah tepung gaplek. Aku mengolah tepung yang katanya sudah lama sehingga kulaksanakan sesuai pesan yang memberi, yaitu merendamnya terlebih dahulu kemudian diperas dengan saringan kain. Setelah diperas ternyata ketika aku coba hancurkan, sudah bisa menjadi butiran tiwul mentah yang sempurna cantiknya. Artinya apa? Aku tidak perlu melewati proses nginteri itu kan? Ya sekadar dipecahin saja gumpalan tepung setelah diperas. Artinya apa juga? Artinya aku sudah mendapat ilmu baru bahwa masak tiwul dari tepung gaplek tidak harus pakai proses nginteri. Hehehe....ini sih nyari jalan pintas dan mudah, Jazim! Pasti donk... Jazim tidak pernah suka dengan slogan "Jika bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?" Hehehe jauh banget hubungannya masak tiwul dengan slogan itu? Jadi jika ada yang mudah kenapa harus nyari yang susah sih, jika hasilnya sama? 



Sempat bercanda dengan suami.
"Gimana kalau kita beli tanah di sini dan ketika pensiun nanti menjalani kehidupan di sini? Rumahnya tidak terlalu besar, tapi dikelilingi kebun saja." 
Suami hanya tersenyum lebar. "Enak sih, tenang banget hidup di desa atas gunung begini, tapi apakah berani sendirian ketika aku harus turun ke kota?" 
Aku yang tertawa dan langsung membayangkan betapa aku tidak akan bisa kemana-mana ketika beliau tidak di rumah. "Tapi kan di sini aman? Ya rumah kita harus dipagar dengan baik termasuk kebunnya ya harus dipagar." Tentu suami tertawa mendengar argumenku. 
"Kalau keamanan, InsyaAllah di sini aman. Entah kalau yang nantinya kamu tanam itu berbeda dengan yang ada di desa ini." 
"Sepertinya kalaupun dikasih rezeki sama Allah dan bisa beli tanah perkebunan di sini, sekadar untuk singgah saja. Tempat tinggal tetap kita tetap di bawah, di kota." ucapku akhirnya. 

Ya, ada hal indah ketika mengamati kehidupan di desa yang tenang. Pola hidup masyarakat yang sangat sederhana hadirkan cerita khusus di hatiku. Udara yang bersih dan menyegarkan. Kondisi itulah yang hadirkan lintasan untuk bisa tinggal di sana. Ya...impian itu syah saja kita miliki walaupun kita tetap harus realistis dalam proses meraihnya. Keyakinan pada segala kehendakNya dan penerimaan atas segala yang diberikanNya dengan bahagia, adalah hal utama yang harus diperhatikan dengan baik. 

Perjalanan hidupku selama ini, cukup banyak hal yang membuatku bisa menerima apapun yang telah digariskanNya, sambil terus belajar mensyukuri dengan baik dan benar. Manut kersane Allah saja...itu hal yang mendamaikan. 

0 Comments