"Dengan memilih berterima kasih (bersyukur) berarti kita memilih satu aspek kemurahan Tuhan, dimana kita fokus kepadaNya. Hal ini bertujuan untuk menghubungkan diri dengan sebuah visi hidup yang lebih tinggi." (Depak C)

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yaitu  BERMAIN DI TAWANGMANGU. Jika berkenan silakan dibaca terlebih dahulu ya...

Aku masih tidak percaya, pada akhirnya kami memang memutuskan turun ke Yogya setelah aku bisa menghubungi dua orang teman baik selayaknya saudara yang ada di Yogyakarta, tepatnya di Gunung Kidul dan Sleman. Karena dua tempat (rumah) teman inilah yang menjadi tujuan silaturahimku ke Yogya yang tanpa persiapan apa-apa. Alhamdulillah, semuanya tengah berada di rumah dan siap menerima kedatangan kami. 

Kami melanjutkan perjalanan melewati jalur Matesih dengan mengandalkan google map sebagai penunjuk arah perjalanan kami. Saat melewati Matesih yang sebelumnya sempat kami lalui untuk sekadar jalan-jalan, aku ingat kembali tentang Astana Giribangun. Sayangnya, ketika mengingatnya kami kembali sudah melewati lokasinya. Keblanjur ceritene...hehehe. Suami bertanya apakah perlu kami putar balik? Aku tidak begitu yakin untuk putar balik menuju Astana Giribangun, memintanya untuk melanjutkan perjalanan saja. "Lain kali saja, kita main ke sini lagi." ujarku.

Alhamdulillah, jalan yang kami lewati hampir bisa dikatakan 80-90% dalam kondisi baik. Jawa Tengah memang telah berbenah dengan baik dalam peningkatan infrastruktur. Kami banyak melintasi hutan dan pedesaan, serta kota kecamatan. Di banyak pedesaan kami jumpai masyarakat keluar rumah tanpa mengenakan masker, sedangkan di area kecamatan atau setidaknya pasar yang kami lewati hampir semua mematuhi protokol kesehatan. Ketika petunjuk arah tertulis pada salah satu arahnya adalah kota Sukoharjo, mendadak aku ingat teman facebook yang aku kenal dengan baik karena beliau dalam satu keluarga buku Ibuku Adalah. 

"Aku punya teman di Sukoharjo, Mas."kataku pada suami. "Ya coba dihubungi, kita bisa salaturahim jika memang tidak terlalu jauh dari kota. Kita akan melewati kota Sukoharjo ini." jelas suami. Aku langsung mencari nomer kontaknya di HP ternyata tidak ada. Aku ingat kami pernah komunikasi di messenger, maka aku segera membukanya. Aku lihat FBnya masih aktif juga dan aku menemukan nomer HPnya yang ternyata sudah tidak aktif. Aku beranikan kirim pesan, tapi sepertinya beliau tidak menggunakan messenger. Aku telp via facebook, juga tidak ada respon. Aku nyerah, ya sudah berarti kami memang belum dikehendaki bertemu. 

Kami melintasi kota Sukoharjo dengan bahagia, seiring mendung bergelayut tapi hawa masih cukup panas. Suami menanyakan kami akan makan di Sukoharjo atau setelahnya. Mendadak aku membaca sebuah alamat SANGGRAHAN. Bukankah itu alamat teman facebook yang satu buku denganku? 

"Mas, sepertinya Sanggrahan ini alamat rumah temanku itu. Tapi RT 5 RW 1. Artinya dekat di sekitar sini saja. Kita cari tempat makan sambil tanya-tanya saja ya." ujarku. Suami mengiyakan segera memutar haluan ke arah perempatan yang barusan kami lewati karena di sana ada penjual makanan. Kami makan siang di warung kecil di pinggir jalan dekat perempatan. Setelah pesan makanan, kami mencoba bertanya tentang alamat rumah teman kami. Tidak ada petunjuk yang cukup berarti dan suami masih berusaha mencari lewat google karena setahuku teman ini punya usaha khusus. Nihil kami tidak mendapat petunjuk yang berarti. 

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi kami melihat alamat RT 5 RW 1 itu tertulis dengan sempurna di sebuah Masjid. Aku meminta suami berhenti. Aku bertanya kepada seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya di sebelah masjid. Kusebut sebuah nama, dan aku tidak tahu nama suami temanku itu. Aku hanya sebutkan bahwa mungkin temanku punya toko. 

MasyaAllah...awalnya si ibu bilang tidak tahu. Kemudian mencoba mengingat dan bilang; "Mbak mblebet dalan niku mawon, belok kanan mangke wonten penjahit-penjahit,  ngajenge niku  dalemipun mbake. Mbak tanglet malih." Allahu Akbar, aku seperti mendapat anugerah luar biasa dan dengan yakin kami memasuki gang yang dimaksud si ibu. Sesuai petunjuk, aku melihat penjahit yang banyak karyawan dan tepat kulihat rumah di depannya. Alhamdulillah, aku langsung melihat seorang ibu muda dengan wajah yang kukunal sangat sibuk dengan urusannya. Tampak mengomando karyawannya dan juga melayani pelanggan. Aku mencoba bertanya."Niki daleme mbak Fitri nggih?" Orang yang aku tanya membenarkan tapi tidak begitu meresponku karena memang sedang sibuk. 

Setelah urusannya selesai aku beranikan melangkah masuk ke area rumah yang sekaligus menjadi tempat usahanya itu. "Panjenengan mbak Fitri nggih?" aku bertanya lagi padahal aku tahu beliau memang teman facebook yang kucari itu. Tampak ragu kembali mengiyakan, mungkin heran siapa ini orang? Terlebih aku masih mengenakan maskerku. Melihat beliau ragu, aku langsung menjelaskan.

"Saya Jazilah mbak Fit, dari Surabaya." kataku. Aku melihat beliau kaget dan sepertinya memutar ingatan hingga akhirnya..."Mbak Jazim? ya Allah...mbak Jazim?" tanyanya seolah ingin meyakinkan diri bahwa yang ada di depannya memang aku. 

Seperti pertemuan-pertemuan dengan keluarga Ibuku Adalah sebelumnya, demikian juga pertemuanku dengannya. Mengalir indah, seolah kami saudara atau teman yang telah kenal lama. Berbagi kisah tentang banyak hal. Bersyukur suami beliau juga cepat akrab dengan kami yang secara nyaman suamiku juga termasuk orang yang mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya. Pertemuan yang tidak kurencanakan sama sekali, ternyata dimudahkan olehNya. Tidak ada buah tangan apapun yang kubawa untuk keluarga kecil mereka yang bahagia. Bahkan akupun tidak ingat lagi untuk membingkai kenangan pertemuan kami dengan sebuah foto. Aku menikmati moment pertemuan kami, itu cukup berarti. Sayangnya aku harus segera melanjutkan perjalanan. Ya, mbak Fitri dan keluarga...pertemuan kita memang sesaat, tapi InsyaAllah kita telah terikat dalam sebuah janji hati. Janji sebagai teman, sahabat dan juga saudara. InsyaAllah kita akan bertemu kembali. Aamiin. 

Perjalanan kami masih cukup panjang melintasi gunung dan lembah. Hawa sejuk pegunungan memanjakanku. Kami sampai di desa Logandeng Playen selepas ashar, rumahnya Mini GK. Rumah yang pada tahun 2019 lalu menjadi tempatku berlebaran sepeninggal bunda. Rumah yang telah menjadi salah satu tempatku pulang, karena di rumah ini aku punya keluarga yang menerima dan mencintaiku dengan tulus. Rumah yang sering kurindukan dalam hening doaku. Akhirnya aku bisa bertemu keluarga di rumah ini, bercengkrama dan sholat di sini. Pertemuan sesaat tapi mampu mengobati rindu yang pekat.

Mendung masih menyelimuti wilayah Yogya lantai dua ini, ketika kami memutuskan  melanjutkan perjalanan dan menginap di Yogya laintai satu, tepatnya di Seyegan Sleman. Memasuki kota Yogyakarta, senja telah turun bahkan menua. Lalu gerimis kecil mencandai kami yang tengah mengobati rindu pada Yogyakarta. Ah, gerimis cantik yang mengenergy, meluruhkan segala riak resah melahirkan senyum penuh kesyukuran. 

Menyusuri jalanan Yogyakarta, membuat banyak lintasan kenangan berkerumun begitu saja dengan sangat lancangnya. Kubiarkan kenangan hadir, kupangkas kelancangannya dengan senyumku yang paling damai. Perlahan kenangan itu luruh bersama air hujan yang mengaliri jalanan Yogyakarta. Aku berterimakasih pada sejuta kenangan di kota ini, berterima kasih pada dinding kota yang sentiasa menawarkan keramahannya. Terimakasih telah menjadi salah satu kota yang membuatku menjadi seperti saat ini. Menjadi Jazilah Imana yang seharusnya. 

"If, aku datang ke kota ini bersama dia yang mencintaiku dengan sangat sederhana, InsyaAllah dia juga akan menjagaku dengan baik. Terimakasih atas semua yang kau ajarkan, terimakasih. Seperti halnya padamu akupun mencintainya karenaNya saja." 

Hujan hadir dengan sempurna membasahi kami ketika sampai pasar Godean. Artinya tempat yang kami tuju sudah sangat dekat, yaitu rumahnya Ecy. Tidak perlu waktu lama, aku melihat kembali sebuah rumah dengan rasa yang tidak berbeda saat aku memasuki rumah di Gunung Kidul. Rumah yang menjadi salah satu tempatku untuk pulang dan menerimaku dengan sepenuh cinta. Apapun adanya diriku. Sejenak kemudian kutemukan rekah senyum seorang teman yang telah menjadi selayaknya saudaraku itu. 

Ya, malam itu kami menginap di Seyegan menikmati makan malam bakmi godok spesial yang dimasak oleh sang pemilik rumah. Rasanya sudah sangat lama aku dan dia tidak berbincang seperti waktu-waktu lalu, karena pandemi yang membuat kami terhalang berjumpa. Suami aku persilakan istirahat terlebih dahulu. Aku bisa bercerita panjang dengannya sepanjang malam itu. Di luar rintik hujan mengiringi kisah yang digelar. Entah bagaimana mulanya kami bisa menjadi selayaknya saudara, tapi begitulah yang ada. Aku biasa berkisah padanya demikian juga dia kepadaku. Berbincang tentang banyak hal, tentang kehidupan, tentang pekerjaan dan hal-hal lainnya. Pagi datang merayap perlahan ketika kami memutuskan  istirahat. 

Matahari hangat selepas hujan semalam. Aku mengitari pedesaan sekitar sementara teman baikku itu memasak. Aku sekadar mengingat jalanan yang pernah kulewati bersama temanku, kali ini kulalai bersama suami. Kami jalan kaki ke persawahan. Bertemu peternak sapi, ikan dan bebek. Saat itulah aku melihat pohon Kenitu tengah berbuah lebat demikian juga pohon Manggis yang tengah berbuah. Bertemu sepasukan bebek yang selesai bermain di sawah. 


Pagi itu sebelum kami jalan-jalan ke persawahan, terlebih dahulu sudah sarapan buah. Sekembalinya dari jalan pagi, ternyata Ecy masak spesial untuk kami yaitu nasi kabuli. Kami makan berat setelah bersih diri dan bermain dengan tanamannya Ecy yang banyak banget. Saat di Seyegan inilah aku mencoba menghubungi beberapa teman yang bisa kami kunjungi. Karena memang tidak ada persiapan berlebih tentu tidak bisa menyapa semua teman di Yogya secara langsung. InsyaAllah dikesempatan lain. Aamiin. 

Suamiku telah pesan tempat menginap lagi di sekitaran Jl. Malioboro karena aku pernah bilang padanya untuk bisa jalan-jalan lagi di sekitaran pasar Bringharjo atau ke Titik Nol. Aku juga meminta jika kami ke Yogya, aku ingin kami sholat di masjid Gede Kauman. Atas dasar itulah beliau memesan tempat menginap di Jl. Mataram yang ada di balik Malioboro. Siang itu kami meninggalkan Seyegan dan ketika sampai hotel lagi-lagi disambut hujan deras luar biasa. Sejenak kami rehat karena sudah berencana  makan siang di Tengkleng Hohah yang ada di jalan Wonosari. 

Sebelum pergi makan siang, kami mau sholat dhuhur di Masjid Gede Kauman. Sayangnya masjid ditutup dan hanya dibuka saat tepat waktunya sholat saja karena memang masih pandemi dan tengah renovasi. Atas petunjuk petugas, kami diarahkan sholat di Masjid yang ada di lingkungan Kraton. Kami menuju tempat itu dan aku berkali ke Yogya, baru kali ini mengetahui keberadaan masjid tua ini. Bahkan saat berkunjung ke Kraton beberapa waktu lalu aku juga tidak notice adanya masjid ini. 

Setelah sholat kami rehat sejenak di masjid ini. Melihat kondisi masjid yang memang termasuk bangunan lama. Aku menelusuri informasi yang ada di halaman masjid tersebut. Aku menemukan sejarah singkat tentang Masjid Kagungan Dalem Rotowijayan ini. Setelah rehat kami segera melanjutkan perjalanan untuk makan siang karena awan mulai bergelayut lagi. 






Ketika kami sampai tempat makan, hujan kembali turun dengan derasnya. Alhamdulillah.... Sebenarnya sudah lama aku ingin menikmati tengkleng Hohah namun setiap ke Yogyakarta selalu tidak ada kesempatan ke sana. Bahkan pada awal pandemi, aku hampir saja pesan secara online karena memang ingin tahu rasanya. Namun, porsi yang besar membuatku mengurungkan membeli secara online karena tidak ada teman memakannya. Akhirnya ketika ke Yogya kemarin, aku menyampaikan ke suami tentang satu keinginan ini. Beliau menyetujui dan segera melihat jalur menuju lokasi yang tidak terlalu jauh. Kami makan siang di sana, dan karena harus menjaga badan untuk tetap fit kami tidak sembarangan pesan makanan. Rencana menikmati yang pedas-pedas, kami urungkan dengan pesan Iga goreng yang porsinya memang besar cukup untuk berdua. "Lain kali kalau ke sini lagi kita pesan yang pedas ya." pesan suami. Aku hanya tersenyum semoga kami bisa kembali menikmati makan di sini bersama orang baik lainnya. 

Kami memutuskan istirahat saja di penginapan setelah makan siang, karena aku ingin jalan-jalan pada malam harinya. 

Senja datang dengan sempurna ketika kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan Malioboro. Ah, sungguh banyak kenangan (;agi) yang begitu lancang menyapa. Bukankah dinding kota ini memang dibuat untuk memahat kenangan? Alhamdulillah banyak hal baik yang layak kuingat di kota ini, yang begitu sempurna membalut luka yang pernah ditorehkannya juga. Apapun adanya kota ini tetap memiliki tempat indah di sudut hatiku. 

Aroma kota ini seolah mengandung asap mistis yang mengundang rindu. Walaupun banyak wajah berubah selayaknya remaja yang mengenal peralatan kosmetik untuk mempercantik diri. Namun aku selalu rindu sisi-sisi lampau yang kutangkap lewat mataku saat kali pertama kuhirup aroma cintanya. 

Sebuah mall yang dulu kukenal sederhana, kini telah tampil dengan pesonanya membawa keterkejutan tersendiri. Dulu di sampingnya aku bisa menemukan penjual jadah (ketan tumbuk) bakar beserta manusia-manusia yang menikmatinya. Sekarang pemandangan itu tidak kutemukan. Entah dimana penjualnya sekarang? Satu hal yang sejak dulu bikin aku gelagapan setiap berada di sekitaran Malioboro adalah mesin ATM. Ya, apa aku saja yang kurang jauh main di sekitaran Malioboro sehingga selalu tidak mudah menemukan mesin ATM. Ah, sekarang yang sudah jamannya uang digital, Mbak? Kenapa masih nyari mesin ATM. Duuh...apakai aku bisa makai saldo ovo, dana, gopay, shoopepay, atau kartu debitku kalau aku beli dua mangkok ronde di sana?

Ya, aku punya kebiasaan tidak megang uang berlebih di dompet, sepertinya sejak dulu memang begitu. Kalau bawa uang juga sering berantakan di tas hehehe. Terlebih sekarang ketika banyak pembayaran hanya tinggal gesek atau scan saja, semakin sedikit saja uang tunai yang selalu kubawa. Dulu ada mesin ATM di dekat mall Malioboro itu dan sekarang? Masih ada sih...tapi di dalam mall dan di lantai 3 (seingatku). Artinya apa? Kalau mau ambil uang harus masuk mall, dan harus scan melalui aplikasi pedulilindungi bahwa kami sudah vaksin! 
Saat itu aku belum download aplikasi dan suami belum menyelesaikan prosesnya ditambah HP beliau ada di hotel karena batereinya harus dicharge. Nekad saja aku sekadar nunjukin hasil downloadan sertifikat vaksin kami. Kalau gak boleh ya sudah kami tidak jadi beli sesuatu di Malioboro. Kami sampaikan apa adanya dan...kami diizinkan masuk. Alhamdulillah...toh kami memang sudah vaksin, jadi tidak ada niatan apapun. Pokoknya bisa ambil uang, itu saja! 
Agak aneh juga rasanya sejak pandemi aku masuk mall bisa dihitung jari, terlebih setelah ada banyak aturan untuk memasukinya kami belum pernah masuk mall lagi. Ini kali pertama, justru saat di Yogya dan 'kehabisan' uang tunai sehingga harus nge-mall hahaha. Kalau dikatakan sangat ramai memang tidak ya, tapi kalau dikatakan sepi ya enggak sepi sama sekali. Pokoknya semoga semua segera pulih membaik, sehat semua lancar semua dan Indonesia semakin sejahtera. 

Ya, malam itu kami benar-benar bisa jalan-jalan di jalanan Malioboro, tapi sengaja tidak mendekat ke arah stasiun. Sungguh sekadar menikmati suasana itu, mengamati manusia dengan segala tingkahnya. Kami sekadar duduk menikmati buah yang kami bawa. Tidak ingin membeli makanan atau pun ronde yang kebetulan malam itu Malioboro sangat sejuk bahkan tidak lama setelah adzan Isya, gerimis kecil menyapa dengan cerianya. Kami segera kembali ke hotel setelah membeli batik dan kaos. Memilih makan malam sop ayam klaten di dekat hotel. Hujan turun dengan sempurna ketika kami makan. Malam itu kami sepenuhnya istirahat. 

Pagi indah selepas hujan semalam. Ada agenda pagi untuk silaturahim ke rumah Oma di jl.Jambon. Kami diundang sarapan bersama di sana. Ya, rumah itulah yang mengikatku jika berada di kota Yogyakarta, seolah menjadi tempatku pulang. Setelah berbincang tentang banyak hal, kami pulang dengan banyak oleh-oleh. Terima kasih Ecy...padahal kami datang dengan tangan kosong bahkan merepotkan karena kabar yang begitu mendadak kami sampaikan. InsyaAllah...mudah-mudahan bisa segera silaturahim lagi ke Yogya. 

Agenda kami hari itu sekadar jalan-jalan mengelilingi Yogya, membeli oleh-oleh untuk keluarga dan mengunjungi satu pemeran seni yang ada di RC Studio sebelum kami pulang ke Madiun. Tentang pameran seni ini akan kutulis sendiri ya... Setelah membeli oleh-oleh, aku meminta suami jalan ke pasar Bringharjo hingga sekitaran titik nol Yk. Sekadar menikmati matahari pagi yang hangat, memperhatikan kesibukan yang terjadi di sana. Lagi-lagi, tidak banyak kami mengabadikan moment itu dalam tangkapan kamera yang berupa foto. Ada video sih tapi langsung aku unggah di media sosialku yang lain. Entahlah...bahkan pertemuan demi pertemuan juga tidak terbingkai. Aku hanya ingin menikmati moment saat itu. 

Siang itu setelah berada di ruang pameran seni karya Pak Rudi, berbincang tentang banyak hal dengan mas Redy sebagai penanggung jawab, kami meninggalkan kota Yogyakarta. Sebenarnya masih banyak tempat atau teman yang pernah kami rencanakan akan kami kunjungi ketika ke Yogya, tapi karena kami mendadak datang tidak banyak yang bisa kami lakukan. Menuju Madiun, melintasi Klaten, Wonogori dan Ponorogo. Sayang di lintasan ini kami tidak melakukan silaturahim pada teman-teman yang kami kenal. InsyaAllah di kesempatan lain, ada nama-nama yang telah terekam dengan baik untuk bisa kami kunjungi kelak. Aamiin...Terima kasih yang telah menerima kami dengan baik, mohon maaf kepada yang belum bisa kami 'ampiri'. Semoga bisa dipertemukan dalam kondisi sehat, baik dan bahagia. 

 



0 Comments