#untuk peristiwa 12012014 (7 tahun meninggalnya Mbah Inggi) 

Pak Inggi (baju batik bersongkok) saat pernikahan adikku, Mei 2013.

Delengen ya Im, mbahmu sedo tiap 2 tahun sekali kan?” ucapnya ketika aku duduk di sampingnya setelah kematian mbah putri pada 9 September 2012 lalu. Beliau adalah mantan kepada desa yang merupakan adik dari mbah putriku artinya beliau juga mbah-ku. Mbah putriku memang 5 bersaudara dan meninggalnya berurutan dari saudara tertuanya hingga mbah putri.

Berarti dua tahun lagi, pak Inggi yang nyusul makmu,” ucapnya lagi dengan santai. Ada nyeri di dadaku yang coba kuhalau dan sekali lagi aku kehilangan kata. Hanya senyum yang kumiliki sambil memandang wajahnya.

Panggilan Pak Inggi itu berasal dari jabatannya yang sebagai kepala desa, di masa lalu masyarakat menyebut seorang lurah itu sebagai Pejabat Tinggi (Petinggi—orang berkedudukan tinggi) dan orang awam menyebut dengan singkat Pak Inggi. Jadi akupun ikut memanggil beliau seperti itu. Pak Inggi atau mbah Inggi. Walaupun jabatan sebagai kepala desa sudah tidak disandangnya tapi masyarakatnya masih tetap memanggilnya dengan Pak Inggi.
Beliau adalah sosok pemimpin yang memang kukenal cukup merakyat, bahkan hingga lengser dari jabatannya yang entah dijabat berapa tahun itu masyarakatnya masih tetap menjadikan beliau panutan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting di desa. Termasuk tentunya menjadi tujuan (jujugan) bagi kepala desa yang baru untuk bertanya ketika ada persoalan di desa.

Sebenarnya bukan hal baru ketika beliau bahkan keluargaku yang lain menjadi tujuan orang-orang untuk meminta nasehat, karena buyutku (bapak dari mbah putri dan saudara-saudaranya) adalah seorang Carik (sekretaris desa) yang sangat dikenal masyarakat. Dari pergantian lurah beberapa kali selalu buyutku itu yang dipilih menjadi Carik. Buyut memang menjalani masa penjajahan Belanda dan tentunya Jepang. Era itu anak-anaknya memiliki kesempatan sekolah ketika penduduk lain belum memiliki kesempatan yang sama. Jadi wajar saja kalau pada akhirnya anak-anaknya menempati posisi yang penting dan dihormati di masyarakat karena memang berpendidikan (berpengetahuan). Ternyata anak perempuan yang giat sekolah adalah mbah putriku kemudian kedua adik laki-lakinya.

Tidak salah juga akhirnya ketika itu mbah putri akhirnya dipinang anak kepala desa (Ya karena bapak-bapak mereka adalah lurah dan carik yang sudah saling tahu). Mbah putriku memang berbeda dari kedua saudara perempuannya (kakaknya) dan itu sering diceritakan ketika aku masih kecil dan tinggal bersamanya. Karakter mereka bertiga berbeda. Kakak perempuan pertama suka dengan keelokan penampilan sebagai seorang gadis. Cantiknya memendar, lebih suka jalan-jalan artinya bepergian adalah hal sangat menyenangkan baginya. Kakak kedua, sangat terampil urusan rumah tangga malah lebih mumpuni urusan pertanian. Sedangkan mak atau mbah putriku adalah putri ketiga yang paling pendiam, dan penurut tapi pemberani. Beliau pernah bilang bahwa kalau dinasehati Buyut (baik buyut kakung atau putri) tidak pernah sama sekali membantah dan itu berbeda dengan kedua kakaknya. Termasuk urusan mengaji, ternyata hanya mbah putriku yang memang rajin mengaji bersama adik-adiknya. Sampai usia senjanya beliau masih bisa membaca AlQuran dengan baik.

Sebagaimana gadis desa, ketiga anak perempuan Buyut juga diajari memasak, tetapi sekali lagi anak pertamanya yang paling rewel jika sudah diminta masuk dapur. Sedangkan mbah putriku dan kakaknya, merekalah yang paling rajin berada di dapur. Maka…akhirnya akupun tahu bahwa masakan kedua mbahku itu selalu menjadi perbincangan karena rasanya. Mereka belajar langsung dari Buyut bagaimana menjadi seorang perempuan dan ibu. Aku masih bisa merasakan makanan-makanan yang dikenal masyarakat desaku bahwa hanya masakan kedua mbah-ku itulah yang paling enak.

Nah setelah mbah putriku menikah dengan putra kepala desa, beberapa waktu kemudian kepala desa lengser. Ternyata suami mbah putri (kakekku) ikut mencalonkan diri menjadi kepala desa yang baru. Tapi sayangnya, hasil perhitungan suara hanya terpaut 1 lidi saja dan dimenangkan oleh orang lain. (apakah dulu sudah ada money politik yak?) Mbah putriku suka menceritakan ini dengan antusias bagaimana dukungannya kepada suaminya saat menuju pencalonan diri menjadi kepala desa hingga akhirnya belum berhasil. Aku melihat indahnya pengetahuan mbah putriku sebagai seorang istri yang menjadi sahabat bagi suaminya. Menjadi tempat bersandar yang kuat saat suami sedang lelah. Menjadi penenang ketika suami sedang kacau dan tentu menjadi penasehat yang mencerahkan bagi suaminya yang ternyata memiliki karakter cukup keras katanya.

Saat kepemimpinan itu jatuh ke orang lain, beberapa waktu kemudian justru adik bungsu mbah putrikulah yang terpilih sebagai Carik di desa menggantikan posisi Buyut. Saat itulah bunda lahir sebagai symbol ikatan keluarga dari mantan kepala desa dan mantan cariknya. Di tahun 50-an itu kondisi bangsa ini tidak dalam keadaan indah. Semua serba susah. Indonesia baru merdeka, sedikit persoalan bisa memicu kemelut yang semakin membesar. Pernikahan mbah putriku pun mengalami prahara hingga berakhir perceraian. Otomatis Bunda adalah satu-satunya putri yang memiliki darah perpaduan lurah dan carik.

Sekali lagi kondisi Negara yang kacau, kadang harus membuat keluarga Buyut tentu termasuk mbah putri harus mengungsi ke desa lain dalam beberapa waktu. Beberapa tahun menjelang peristiwa PKI akhirnya mbah putriku kembali dipinang oleh seorang laki-laki dari desa lain yang bisa disebut sebagai seorang pedagang atau tentara. (aku kurang paham profesi beliau apa). Aku justru mengenal beliaulah kakekku. Beliau yang pernah ikut pertempuran 10 November di Surabaya, dan selalu menjadi cerita di masa kecilku yang tidak pernah bosan aku mendengarnya. Karena pada akhirnya aku tumbuh dalam asuhan beliau. Jiwa kecilku ditempah olehnya. Kakek inilah yang kutulis abadi di kehidupanku, karena saat aku terlahir kakekku yang sesungguhnya (bapak dari ibuku) sudah meninggal. Jadi aku tidak mengenali wajahnya hanya mendengar semua cerita tentangnya dari mbah putri.

Setelah peristiwa PKI itu, akhirnya adik mbah putriku terpilih sebagai kepala desa. Hingga beberapa kali periode pada masa orde baru waktu itu. Termasuk akhirnya adik bungsunya yang mendampinginnya sebagai carik. Jadi di desa kami dipimpin oleh dua bersaudara. Mungkin kalau saat ini semua itu dianggap nepotismu. Tapi era itu…sungguh semua adalah kehendak rakyat. Bahkan karena memang kedua adik mbah putriku itulah yang berpendidikan di desa.

Mendengar semua cerita itu, selalu membuatku tersenyum saat ini. Dan ternyata akulah cucu dari mereka semua yang tinggal di desa dan mulai menampakkan keberbedaan sejak kecil. Ada beberapa cucu dari kakak pertama mbah putri, tetapi mereka tinggal di kota lain. Jadi otomatis juga aku selalu menjadi semacam ‘bahan’ obrolan ketika ada hal-hal yang berbeda. Walaupun adik-adiknya berposisi sebagai orang penting di desa, sekali lagi aku belajar dari mbah putriku. Beliau sama sekali tidak pernah meminta belas kasihan apa-apa ketika kondisi perekonomiannya semakin memburuk. Kakek yang akhirnya menjadi pedagang dan bunda memiliki adik-adik sebanyak 4 orang, semua tanah sawah dan ladang yang sebelumnya menjadi milik kakek harus dijual untuk kelanjutan hidup. Itu puncak titik balik kondisi ekonomi mbah putri. Mendengar cerita itu, aku hanya terdiam. Ya…kakek memang akhirnya dikenal (bahkan disegani) di desa kami, karena sebagai orang yang pernah berjuang untuk Negara ini dan tentu sebagai pedagang yang cukup berhasil pada eranya. Kehidupan terus berputar.

Mbah putri suka menceritakan semuanya dan mengkahiri dengan nasehat indahnya. Ketika aku mengikuti langkahnya ke sawah, atau saat aku ikut menceburkan diri ke lumpur untuk menanam padi (tandur) saat itulah aku mendengar kisah-kisah itu. Anehnya aku selalu suka mendengarnya, tidak pernah bosan. Tapi mbah putri seorang pencerita yang bagus, kondisi kurang baik diceritakan padaku tapi diakhiri dengan nasehat (atau hikmah) dari kisah itu. Mungkin itulah yang menyebabkan aku tidak pernah bosan mendengarnya bercerita. Walaupun kalau sudah kambuh ngeyelku, aku juga akan banyak tanya. Mengapa begini, mengapa begitu. Itu siapa ini siapa.

“Dari ujung sana itu, yang dekat rumahnya pak X bahkan rumahnya pak X itu adalah tanah kakekmu. Setelah peristiwa PKI, usaha kakekmu bangkrut karena semua orang dicurigai sebagai antek PKI. Apalagi kakekmu yang kerjaannya selalu berdagang keluar kota. Akhirnya kekekmu memilih berhenti berdagang dan bertani. Tapi semua tetap tidak mudah, kami semua butuh makan dan beberapa orang yang masih saudara juga ada yang ikut tinggal bersama kami. Jalan satu-satunya ya menjual tanah itu untuk makan. Juga untuk biaya sekolah ibumu, bulekmu dan pamanmu. Ternyata semua tidak bisa kembali seperti semula. Kami bertani sampai sekarang ini…” cerita mbah putri padaku.

Aku, setelah dewasa mencoba mengingat semuanya. Ternyata memang sangat luas perkebunan atau sawah dan tambak yang saat itu menjadi asset berharga keluarga mbah putri. Saat aku bersama mereka, mbah putri hanya memiliki lahan sawah warisan dari Buyut seluas 1 hektar. Dan tanah yang menjadi tempat tinggal kami adalah sisa kejayaan kakek tidak lebih dari 2 hektar. Kakek memang tetap disegani, bahkan saat aku tumbuh bersamanya aku masih merasakan perlakuan orang-orang yang agak berbeda karena aku adalah cucu kakek. Karena itulah, aku juga terbiasa tumbuh menjadi pribadi kebanggaan kakek. Kakek menempahku, mbah putripun mematangkan aku.

Disamping tempaan mereka, aku tetap saja tidak bisa dipisahkan dari keluarga Buyut yang tentu adalah kepala desa dan cariknya. Kedua orang ini memang selalu berbeda cara bicaranya padaku. Seolah aku ini adalah harapan semua orang. Seolah aku ini bukan gadis kecil, tapi sosok pemuda saja. Ada banyak cerita disandangkan kepadaku. Tapi aku lebih sering bicara dengan mbah yang menjadi kepala desa karena putra bungsunya sebaya denganku. Mungkin karena prestasi akademikku yang selalu menjadi perbincangan dibanding dengan seluruh cucu dan akulah cicit Buyut yang ada di desa. Kadang ada pembicaraan yang di luar jangkauanku. Dan ketika aku bertanya lebih jelas… itu hanya diakhiri dengan kalimat, ”Suatu saat kamu akan mengerti,” Ah…sungguh menyebalkan bukan?

Bahkan dalam urusan jodohpun, kedua mbah-ku itu sangat terbuka. Termasuk mbah putri sih… Mereka selalu inngatkan aku bahwa, “Pati urip kuwi ono sing ngatur, artine yo termasuk jodoh lan rejeki, lakoni urip sing apik tur bener. Ojo nggawe larane liyan termasuk wong tuwamu, ojo ngaboti liyan, yen iso ngentengno liyan. Sak dermo nglakoni. Ibadahe sing bener. Wes cukup to?”

Sebelum meinggalnya mbah putri aku memang masih pernah bermain ke rumah mbah Inggi. Waktu itu aku memang sudah berada di titik pencarian keislamanku. Walaupun aku ditempah sedemikian rupa oleh semuanya tapi ada darah lain yang mengalir di tubuhku. Darah itulah yang membuatku mencari jati diriku.

Ya…setelah bunda menjadi symbol penyatuan darah lurah dan cariknya, aku terlahir dari darah yang tidak jauh berbeda jenisnya. Bapak ternyata juga masih berdarah leader (lurah). Jadi darahku perpaduan semua itu. Walaupun aku tidak begitu dekat dengan keluarga dari bapak, tetap saja aku tidak bisa menghindar karena darahku memang tidak beda jauh dari darah mereka. Dari sanalah pencarian jati diri dimulai dengan taruhan jiwa raga :)

Aku bertemu dengan kedua mbah-ku yang saat itu sudah menjadi mantan kepala desa dan juga tentu sudah mantan carik. Aku sudah menyelesaikan magisterku bahkan sudah bekerja. Mengejutkan saja, ketika itu aku jalan di bagian belakang rumah mbah Inggi (yang itu adalah rumah buyut waktu itu) aku masih mengenali ruh-nya dengan baik karena aku kecil suka bermain di sana walaupun rumah itu sudah sepenuhnya berubah.

Anehnya aku merasakan bahwa ada yang tidak berubah, ruang-ruang itu serasa masih sama. Ruang Buyut Uti yang aku masih sempat bertemu dengannya dan sangat kenal. Rumah petinggi selalu luas dan banyak perabotan yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Aku terkejut ketika sedang menikmati ruang-ruang itu di alam jiwaku, tiba-tiba mbah Inggi yang waktu itu istrinya sudah meninggal bicara di belakangku.
“Lihat apa? Masih sama ya?”

Aku geragapan dan hanya bisa nyengir saja. Padahal aku sangat terkejut, karena bagaimana beliau bisa bicara begitu dan senyatanya bahwa mataku (mata hatiku) memang tengah melihat semua sisi rumah itu tidak berubah. Pintu yang tinggi dan lebar, ruang tengah yang luas. Dapur yang terpisah, ada lumbung padi. Ah… aku langsung tertawa lagi ketika saat itu yang kulihat hanya tembok-tembok rumah yang jauh berbeda.
“Hehehe iya mbah Inggi, sama :D” itu saja jawabku.

Kulihat beliau tersenyum dan berjalan ke belakang rumah. Aku iseng mengikutinya. Ah…ternyata beliau ke blumbang (kolam) yang dulu digunakan untuk mandi dipagari bambu yang dianyam (gedhek). Aku kecil paling takut kalau disuruh mandi di kolam itu, karena waktu itu ada yang cerita bahwa di kolam itu ada Kalap-nya (Kalap itu istilah untuk makhluk yang membuat orang tenggelam, katanya mereka memakan manusia…hehehe lucu ya, ternyata aku kecil memang tidak pernah berani mandi di kolam. Alasannya ya itu…padahal itu mungkin sebagai bentuk kehati-hatian orang tua agar anak-anak kecil tidak main di kolam karena jika tidak bisa berenang pasti tenggelam. Darimana juga istilah Kalap itu…kenapa gak putri duyung? Hehehe )

Kolam itu sudah berubah, tidak sejernih dulu. Tapi rumpun bambu di sekitarnya rasanya tidak berubah. Aku terhenyak sesaat ketika memandangi rumpun bambu.
“Kenapa, kamu liat apa? Ada yang berbeda ya?” tanya mbah Inggi lagi

Aku terkejut lagi. Hadew…ini kenapa diperhatikan terus aku ya? Aku belum melihat apapun sebenarnya, aku hanya ingin menikmati indahnya rumpun bambu yang berayun dengan suaranya yang khas itu. Rumpun yang begitu rapat, rekat dan kuat. Di benakku justru melihat kebersamaan yang kuat bukan hal lain. Bambu itu sekilas tampak  sebagai pohon yang lemah tetapi ternyata tidak seperti itu adanya. Aku masih mengamati bambu dan memang sedang tidak melihat apapun baik secara fisik maupun nonfisik. Lagian aku juga tidak sedang melakukan perjalanan seperti ketika aku melihat rumah sebelumnya. Karena masa kecilku tidak banyak bermain di rumpun bambu ini sehingga rasanya tidak ada ‘penglihatan’ masa kecil yang terdisplay lagi. Waktu kecil seperti halnya mandi di kolam, ketika aku akan main di dekat rumpun bambu juga selalu dilarang.

Barongan iku omahe demitojok dolanan cedak barongan.” kata Buyut Uti.
Hehehe jelas aku kecil tidak akan berani mendekat. Barongan itu sebutan untuk rumpun bambu yang lebat. Demit sendiri dalam bayangan kecilku adalah hantu yang menyeramkan ( katanya rajanya setan genderuwo) karena gambaran yang diberikan oleh orang tua-tua selalu membuatku diam. Jadi kisah bermain di rumpun bambu tidak banyak terpahat di memory kecilku.

Rungokno unine wae medeni to? Iku unine demite.” kata Buyut Uti melanjutkan ketika aku bertanya demit di bambu itu bagaimana bentuknya.

Sekali lagi, tentu aku mengikuti saja apa yang disampaikan Buyut Uti ikut mendengarkan suara bambu yang berderit-derit. Hehehe dan di telinga kecilku saat itu memang suara itu menjadi sangat menyeramkan saja  seperti rengekan yang tidak pernah berhenti dan cukuplah itu bagiku untuk tidak lagi bertanya bagaimana bentuknya demit yang ada dibarongan. Buyut Uti sukses membuatku diam… hahaha dan tentu tidak merepotkan karena aku tidak akan berani mendekati rumpun bambu itu yang pasti banyak duri dan itu berbahaya bagi kaki kecilku.

Setelah aku besar, suara bambu yang tertiup angin dan bergesekan ternyata menjadi sesuatu yang indah di telingaku. Sayangnya aku tumbuh meremaja jauh dari rumpun bambu, karena di sekitar rumah mbah putri tidak ada rumpun bambu. Makanya saat ini mungkin ada yang agak jengah ketika melihatku begitu senang bahkan tampak terpesona ketika melihat rumpun bambu yang tertiup angin dan berderak indah. Aku memang ingat cerita Buyut Uti tentang barongan sebagai rumahnya demit, tetapi setiap aku perhatikan justru rumpun bambu itu indah. Hanya saja ada sebuah rasa yang kadang begitu saja mencegah aku untuk mendekati rumpun bambu. Entah, apakah peringatan Buyut Uti agar aku tidak main di barongan itu telah mengendap indah di bawah sadarku? Sehingga aku ‘enggan’ untuk mendekati rumpun bambu walaupun selalu terpesona melihatnya. Aku melihat sebuah kombinasi harmonis yang indah antara udara, pepohonan dan bumi yang itu pun tidak bisa kuterjemahkan dengan kata.

Kembali kepada mbah Inggi yang masih memerhatikan aku yang sebenarnya terpesona dengan bambu yang tengah berderak indah. Gemirisiknya, deritnya hmm…itu adalah ‘musik’ indah dalam keheninganku. Sayangnya ada mbah Inggi bersamaku, jadi aku harus memerhatikan beliau.

“Tidak lihat apa-apa mbah Inggi, hanya senang saja melihat barongan dan mendengar suaranya yang menenangkan,” senyumku.

Neng endi apikeSuarane berisik kok menenangkan?” senyumnya lagi

Nggih mboten ngertos…pokoknya bagus dan tenang rasanya,” jawabku ngeyel ternyata.
“Jangan jatuh pada syirik ya…” ucapannya mengejutkan.

Aku langsung menoleh dan ternyata beliau tepat memandangku dengan senyum lebarnya. Aku serius memandang wajah itu, serius tidak mengerti apa maksud dari ucapan beliau. Bambu dan syirik?

“Banyak orang keblinger Im, mbah Inggi nggak mau kamu termasuk di dalamnya. Kamu perempuan cerdas dari keluarga ini, memang ada kepercayaan yang bisa jatuh pada syirik. Buyutmu belum sempurna ibadahnya. Mbah Inggi ya begini saja, kamu harusnya meluruskan semuanya Im,” ucapnya lirih.

Aku menarik napas dalam, masih tidak mengerti arah pembicaraan beliau.
“Maksud mbah Inggi?”
“Im, banyak orang zaman sekarang yang mencari segala sesuatu dengan cara instant dengan perantara setan. Kamu tahu bahwa bambu juga merupakan salah satu yang dipercaya mereka untuk mencapai keinginan itu secara cepat. Mbah Inggi lihat kamu bukan orang seperti itu Im,”

Allah…aku langsung menangkap apa maksud dari ucapan beliau. Aku tersenyum duduk di samping beliau yang sudah duduk di atas kolam dan memang memandang barongan.

“Tenang mbah Inggi, aku insyaAllah mengerti dengan semua itu. Hanya saja tadi memang kaget tiba-tiba mbah Inggi bicara tentang syirik padahal aku tidak melakukan apa-apa. Na’udzubillahi mindzalik. Semoga aku dan semua keluarga kita terhindar dari perbuatan syirik itu mbah Inggi.” Senyumku

“Aamiin iya Im, banyak orang bertanya tentang hal seperti itu tapi lucu saja memang. Seindah apapun iman seseorang, katanya masih tetap percaya sama Allah…tapi tetap saja menurut mbah Inggi itu sudah mendekati syirik. Kalau memang percaya sama Allah ya sudah percaya Allah saja itu cukup. Ada yang bilang itu sebagai usaha hehehe…” tawa kecilnya satire kudengar.

“Hehehe iya mbah, aku ngerti. Mak juga ngajari hal itu mbah…tapi kalau aku bisa melihat bambu ajaib itu gimana mbah?” tanyaku sambil tersenyum lebar.

“Yo ora apa-apa to? Hehehe demite ora wani karo awakmu kuwi, njur yang unik-unik jadi kelihatan oleh kamu. “

“hahaha… aku wae ora tahu weruh bentuke demit mbah, wong Buyut uti juga nggak pernah membolehkan aku main di barongan. Kata buyut Uti, suarane demit itu medeni hehehe. Lha malah saiki demite orah wani karo aku hahaha lucu mbah Inggi :D”  tawaku berderai.

“Hehehe, memang kata orang-orang pinter bambu yang ada isinya itu atau yang disebut ‘……’ tidak gampang ditemukan. Hanya orang linuwih Im, yang bisa menemukan hal itu, makanya tidak mudah dan tidak murah. Benar kata buyut Utimu to… barongan iku omahe demit, lha kan tidak semua orang berani sama demit. Kalau ada orang akhirnya mendapatkan dengan cara membeli dari orang yang mampu menundukkan demit itu…artinya apa?”

Percoyo karo demit hahaha… na’udzubullahi mindzalik mbah…” jawabku renyah saja
Mbah Inggi tersenyum mengacungkan jempolnya untukku.

“Tapi mbah, aku juga tidak pernah tahu demit yang ada di barongan kok, mana bisa aku lihat bambu unik itu?” tambahku.

“Masalahe ora kamu tidak pernah tahu…tapi kamu itu sebenarnya tidak pernah punya rasa takut sama hal-hal selain Allah, jadinya ya…semua menjadi biasa saja bagimu.” jawabnya tanpa menoleh padaku.

Aku terdiam menahan napas sesaat. Jawaban mbah Inggi selalu menohokku saja. Wah…apa benar aku memang tidak takut sama demit? Entahlah…

“Hehehe masak sih mbah Inggi, aku memang tidak pernah melihat hal seperti itu kok dan memang aku merasa mereka itu beda alam denganku. Jadi ya untuk apa aku harus bertatap muka dengan mereka, itu yang ada di benakku. Jadi benar juga ya…bukan karena aku takut, tapi aku menyadari bahwa mereka memang ada dan aku menghormati keberadaannya. Bukankah, dalam al Quran Allah juga menyebut keberadaan mereka.” Aku merasa aneh dengan ucapanku sendiri.

“Kata mereka yang pinter itu, jin yang menunggu bambu unik itu dedengkotnya jin ya buyut Utimu bilang demit tadi. Nah kalau kamu sudah tidak percaya dengan kekuatannya jin tersebut, karena kamu percaya dan yakinnya sama Allah…ya sama saja jin itu dihadapanmu gak ada artinya. Artinya apa? Ya bisa saja kamu tiba-tiba bisa melihat semua bambu unik itu karena penghuninya itu kamu anggap gak ada :D” senyum mbah Inggi.

“Wah…artinya juga bambu itu menjadi tidak ada artinya?”

“Hehehe…karena bagimu hanya Allah Im, jadi bambu seperti itu bagimu ya…sekadar keistimewaan uniknya yang diberikan Allah. Makanya kamu selalu senang melihat bambu yang katamu indah hehehe padahal mana indahnya ya? Biasa saja kayaknya… kalau bertemu mau kamu koleksi?” senyumnya

“Ah itu artinya lagi mbah Inggi juga sama kayak aku kan? Njebak aku kan? Dikiranya aku memang melihat bahwa bambu itu ‘mengerikan’ ya :) kalau mbah Inggi bisa bilang bahwa semua itu tidak indah artinya juga bahwa mbah Inggi juga tahu bahwa ada bambu yang indah :D. Hmmm… bisa juga dikoleksi, tapi ntar malah rawan kejahatan mbah bukan berhadapan dengan jin yang ada di bambunya tapi malah berhadapan dengan manusia yang percaya dengan jin itu. Waduh….”

“Wah…adoh men mikire Im, mbah Inggi sekadar mendengar cerita tentang itu. Tidak pernah berniat untuk mengetahui, makanya tadi waktu kamu memerhatikan barongan, mbah Inggi takut bahwa kamu mencari bambu seperti yang dicari banyak orang itu. Hehehe ternyata malah sebaliknya ya… lagi menikmati indahnya barongan :D pancen lucu yo?”

“Hehehe iya mbah Inggi, doakan saja aku selalu dijaga Allah dari hal-hal yang membuatNya murka. Cukup Allah kan mbah?”

“Iya Im, insyaAllah. Tapi tetap saja kamu harus hati-hati ya Im, memang hatimu tidak ada niat apapun tapi ingat sekali lagi bahwa jin tetap jin, apalagi dia dipuja maka orang yang memujanya inilah yang mungkin tidak menyukai kamu. Jauhi orang-orang seperti itu Im, sekadar berteman jangan pernah mau dimintai tolong untuk menemukan bambu unik itu dengan dalih apapun, karena kamu itu punya gawan bayi agak beda walaupun terlihat keras. Ora bisa nyawang liyan susah, atimu melu lara. Dan biasanya orang-orang seperti ini punya seribu cara agar kamu bisa membantu mereka ketika tahu bahwa kamu suka melihat keindahan bambu. Hehehe…”

“Hyaaa… aku baru ngerti, sejak tadi mbah Inggi bilang keindahan bambu itu sebenarnya adalah bahwa tidak semua orang bisa menikmati bambu yang sebenarnya indah. Mereka hanya melihat bambu atau barongan sebagai sesuatu yang menyeramkan karena memang disana ada banyak makhluk yang ingin dipuja manusia. Bagiku indah senyatanya jelek atau bagi orang lain jelek tapi senyatanya indah? Atau memang sebenarnya indah? Ya Allah… kok malah terbalik ya ini??”

“hahaha gak terbalik…kamu saja yang melihatnya secara terbalik hahaha, cara pandangmu menentukan hasil pandanganmu hahaha. Wes ora usah dipikir marakno ngelu wae. Dilihat saja nanti kamu juga akan ngerti sendiri,” tawa mbah Inggi membuatku nyengir saja. Mencerna semuanya.

“Hehehe iya mbah Inggi, dideleng wae ora usah akeh takon. Semua dikembalikan sama Allah, kalau sampai aku bertemu semuanya ya… itu adalah kesempatan dan bambu itu diberi keistimewaan olehNya. Tapi…cara pandangku menentukan hasil pandanganku hehehe makasih untuk itu mbah :)”

“Iya dan jangan pernah ragu Im, hanya Allah saja.”

“Iya mbah Inggi,”

Itu perbincanganku sebelum mbah putriku meninggal, ketika aku sempat bermain ke desa. Banyak sebenarnya kisah kebersamaanku dengan beliau, ketika beliau memintaku menjadi pribadi yang berilmu dan bisa mengamalkan ilmuku. Hanya saja waktu itu aku diminta kembali ke desa tetapi aku memang tidak menyetujuinya.
*Mbah Inggi, sebenarnya setelah itu ada peristiwa yang kualami ketika Allah mempertemukan aku dengan sebuah jiwa baik. Aku sempat ‘jengah’ ketika dengan ‘semena-mena’ jiwa baik berhati indah ini ‘menuduhku’ mengerti tentang apa yang pernah kita perbincangkan. Kami sempat tersenyum merenda kisah tentang keindahan pelangi. Aku yang merasa memang tidak banyak tahu tentang dunia di luar jangkauanku sungguh hanya tersenyum padanya. Allah menyuguhkan takdir yang harus kami jalani mbah, dan aku sempat sedikit bercerita tentangnya kepada mbah putri. Mbah putri hanya tersenyum mendengarnya dan ada sebuah kalimat yang membuatku tersenyum lebar saja. Menertawakan diriku sendiri mbah. Sayangnya aku tidak bisa bercerita tentang jiwa baik itu kepada mbah Inggi. Aku tidak mau mbah Inggi, ikut ‘luka’ atas sebuah ‘tuduhan’ indahnya padaku mbah. Aku tidak sakit mbah, karena dari sana akupun bisa melihat siapa jiwa baik itu yang sesungguhnya. Kami tetap tersenyum bersama bahkan jiwa baik itu masih melukis pelangi untukku. Tertawa, diskusi dan mengeja cerita. Apa yang karenaNya saja memang selalu indah mbah, pun pula tentang pertemuan ini. Allah itu Maha Cinta dan hanya memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Kita menjalani saja dengan sebaik-baik perbuatan dan hanya mengharap ridhoNya. 

Dan…pada 12 Januari 2014, kalaupun apa yang diucapkan itu benar adanya…andai aku bisa berbincang kepadamu dan meminta padaNya. “Mbah Inggi…mengapa belum dua tahun engkau sudah menyusul kakak-kakakmu, yang beliau semua adalah juga mbahku? Masih banyak kisah yang belum terselesaikan mbah, termasuk adalah menyusun silsilah keluarga kita.”

Seperti mbah Inggi bilang…urip pati kuwi wes ana sing ngatur, Allah.  Ya mbah…aku sangat tahu itu. Seindah apapun sebuah kematian, tetap saja itu hadirkan tunduk yang teramat dalam. Aku cucumu, tetap saja terhenyak kaget ketika mendengar kabar kepergianmu ke alam keabadian. Aku tahu mbah, saat ini hanya amal ibadahmu serta doa-doa kami yang menemanimu.

Kalau mbah putri waktu itu bilang ke aku, “Im, apa malaikatnya kelewatan ya manggil mak. Teman-temannya mak sudah dipundut kabeh, kok mak belum.” Itulah kalimat penantian untuk sebuah kerinduan kepada yang Maha Dirindukan yang disampaikannya kepadaku. Ya…aku tidak bisa membahasakan rasaku waktu itu hanya memeluknya erat, mencoba merasakan indahnya rindu yang mbah putri senandungnya untuk Sang Maha Cinta.

Mbah Inggi, saat inipun engkau telah bertemu Yang Maha Dirindukan karena engkau telah melewati pintu pertemuan itu yaitu kematian. Kematian ini menghidupkanmu dalam kehidupan yang abadi.

Taman Hati, 
Mengenang 7 tahun kepulangan abadi Mbah Inggi 
(12012014-12012021)

"Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu" -
 "Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlahnya."

Jika berkenan membaca Kematian yang Menghidupkan 1







0 Comments