"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan penghormatan kepadanya." (AlQuran: Al Ahzab:56) 

Sekian kali aku mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan ini. Diminta untuk "berbagi" tentang apa yang aku alami setelah sebuah proses kujalani. Namun, menurutku ini terlalu personal dalam tataran spiritual, sehingga selalu ada perasaan kurang nyaman untuk membagikannya. Aku bukan siapa-siapa, tak pantas rasanya menyampaikan bahwa ini sebuah 'pencapaian' aktifitas ruhiyahku. 

Terkait hal spiritual aku memang cenderung memegang aturan main: "jalan yang kita lewati mungkin sama, demikian juga tujuan kita tidak berbeda tapi apa yang kita temui dalam perjalanan kita tidak akan sama sesuai kapasitas kita dan tentunya hasil dari proses ini pun tidak akan pernah sama." Aku ingat apa yang dikatakan Rumi : "It's your road and yours alone. Others may walk it with you, but no one can walk it for you."  

Demikianlah "perasaanku" terkait hal spiritual. Aku bisa meniru apa yang kau lakukan demikian juga kamu bisa meniru atau mengikuti apa yang aku lakukan. Namun apakah hasil/pencapaian kita akan sama? Tidak sama sekali. Kita adalah dua pribadi berbeda, dengan segala keistimewaan yang diberikanNya secara berbeda pula. Bahkan dalam hal 'ilmu katon' saja yang nyata-nyata ada standar yang sama, kita bisa memiliki hasil berbeda, apalagi hal yang menyangkut kondisi batin/spiritual seseorang. 

Orang yang mengenalku pasti mengetahui bahwa saat itu di usiaku yang sangat matang, Allah belum 'memberiku' jodoh. Nah, dalam tataran menghadapi ketetapan ini saja kita bisa berbeda dalam menyikapi. Pilihan sikap kita ini adalah cerminan dari apa yang ada dalam diri kita, hati (rasa), otak (pikiran) serta ilmu dan pemahaman kita terhadap takdirNya (jika boleh aku sebut sebagai kondisi iman islam) yang ada dalam diri kita. Pengalaman hidupku, ilmu yang aku dapatkan dari para guru, dari membaca buku dan kisah orang lain, melehirkan sikap tertentu dalam menghadapi apa yang ditetapkanNya dalam hidupku. Tentu semua sangat berbeda dengan sikap yang ditampilkan orang lain dalam kondisi tidak jauh berbeda denganku. 

Caraku menjalani keyakinanku akan ketetapan Allah, mungkin dianggap salah oleh sebagian besar orang. Orang yang mengenalku sebagai sosok lapangan tidak akan percaya tentang sikapku yang sesungguhnya terbalik (sebaliknya). Sayangnya, lebih banyak orang mengenalku sebagai sosok lapangan dengan segala label duniawi yang 'mengagumkan' (bagi mereka). Mereka tidak mau percaya bahwa ada sosok jati diriku yang sesungguhnya lebih memilih sunyi. Jalan sunyi inipun kujalani tanpa perlu persetujuan atau pengakuan dari manusia. Jalan sunyiku ini untukNya sebagai bentuk syukurku atas segala nikmat yang telah diberikan Allah. 

Ketika orang-orang seusiaku memutuskan untuk melakukan "gebrakan" melakukan perubahan besar-besaran dalam penampilan (secara positif atau negatif) agar semakin dikenal dunia, aku memilih sebaliknya bagaimana dunia semakin tidak mengenalku. 

"Dari mana kau dapat jodoh kalau kau selalu sembunyi begini?!" serapah banyak orang padaku. "Dari Allah! Aku sangat yakin jika Allah memberiku jodoh di dunia ini, di manapun aku berada Allah akan mempertemukan aku dengan jodoku. Tentu dengan caraNya yang mungkin kita tidak akan bisa melogikannya." jawabku kepada siapapun yang bertanya dengan sangat yakin. "Tapi ikhtiyar itu wajib!" sergahnya. "Sudah, aku sudah ikhtiyar dengan caraku dan tidak perlu kujelaskan kepadamu. Bahkan jika pun Allah tidak memberiku jodoh di dunia ini, aku tetap yakin semua terbaik dariNya. Mungkin Allah lebih memintaku menjadi sosok yang bermanfaat dengan cara lain, atau mungkin aku dianggapNya belum mampu." ucapku yang seringkali membungkam mereka. 

Apakah aku selalu enjoy dalam menjalani hidupku? Ya, aku selalu berusaha untuk itu, walaupun sangat sadar tidak selamanya kondisi itu sempurna adanya. Sedih kecewa, bahkan kadang ada rasa 'menyalahkan Tuhan' juga hadir dalam titik-titik tertentu hidupku. Namun sekali lagi, kondisi batin inilah yang akhirnya menentukan sikap apa yang kutampilkan untuk kembali ke jalan 'yang benar' dalam memaknai hidup dan kehidupan sebagai manusia dan hambaNya. Kondisi batin yang baik (kusebut ini adalah anugerah indahNya berupa iman islamku) inilah yang selalu kupertahankan agar sikap yang kutampilkan tidak jauh dari koridor yang dibenarkanNya. Ketika aku telah menyatakan beriman, bukankah selayaknya aku berpegang pada apa yang kuimani? 

Saat ini satu tahun lalu (Juli 2020), aku mulai melakukan perubahan besar-besaran secara spiritual yang kulakukan secara sunyi. Satu titik lelahku mengantar pada tangisan panjangku malam itu. Lelah mendapat cerca, lelah fisik dan mental bahkan saat itu aku mengalami psikosomatis. Setelah  psikosimatis tersebab covid19 mulai membaik, aku bahkan mengalami insecure. Aku tampak baik-baik saja, tapi berbeda dengan yang kurasakan. Hasil laboratorium kesehatanku secara umum baik-baik saja, justru ada satu titik menunjukkan bahwa diriku tidak memiliki daya tahan tubuh sama sekali. Secara mental aku seperti mengalami ketakutan dalam menjalani hidup dan kehidupanku. Saat itu dalam sendiri secara materi tinggal di Surabaya di sebuah rumah cukup besar dengan segala fasilitasnya justru membuatku semakin takut. 

Ya setahun lalu, setiap berangkat tidur aku selalu menyiapkan diriku baik secara fisik dan mental untuk mati. (Beberapa tahun lalu aku juga mengalami hal serupa). Berangkat tidur dengan pakaian yang sopan, menghapus semua pesan di WA, messenger dan lainnya. Memaafkan orang-orang yang menyakitiku di masa lalu, memaafkan diriku sendiri. Berdoa sebaik-baik doa untuk orang-orang terkasih, orang-orang baik yang selama ini membersamaiku. Aku selalu bisa tidur dengan baik. Itulah titik perubahan awalku. Meningkatkan segala hal terkait ibadah yang sebelumnya menurutku biasa-biasa saja. Meningkatkan persentase berbagi, membatasi "bermain" internet dengan segala warnanya. 

Ada ucapan Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang seolah selalu mengingatkan aku, "Tuhan tidak tersakiti oleh pengingkaran Anda, tetapi Tuhan sangat tersakiti jika Anda berpura-pura menyembahNya." Duh... apakah selama ini aku telah menjadi hambaNya yang baik dan benar? Jangan-jangan semua kebaikan yang aku lakukan bukan semata karenaNya, masih sering demi dilihat manusia. Astaghfirullah...

Perubahan besar-besaran ini aku lakukan secara sunyi dengan semakin banyak tersenyum kepada semesta. Hingga pada satu titik tentang pernikahan, tepatnya jodoh. Ya, usiaku masuk kepala 4, sebuah masa yang tidak mudah bagi sebagian perempuan dalam menghadapi kehidupan. Aku memiliki kedekatan secara personal dan emosional dengan seorang laki-laki. Jangan dipikir kedekatan semacam perempuan dan laki-laki dewasa era ini. Kami memiliki prinsip tidak jauh beda, sama-sama (insyaAllah paham aturanNya) tetapi juga bukan teman yang selalu seiya sekata. Cara pandang kami tentang bakti kepada orang tua sama persis. Posisi kami sebagai 'tumpuan' banyak orang tidak jauh berbeda. Posisi inilah yang kadang membuat kami saling menyalahkan, mengejek sebagai kelemahan walaupun pada akhirnya kami sama-sama jatuh pada kelembutan hati yang sama. Allah adalah tempat kembali segala kisah. Kalau kami baik ke semua orang kami sama-sama yakin bahwa Allah tak pernah ingkar janji. Baik akan berbuah baik, entah dengan caraNya yang bagaimana. Pemahamannya tentang aturanNya dan bagaimana dia memperlakukan aku sebagai muslimah metropolitan sangat membuatku merasa "dijaga". 

Titik kedekatan kami inilah yang aku robohkan kali pertama. Jangan-jangan selama ini aku hanya berpikir agar Allah mengabulkan harapan kami, tapi tidak melihat apakah harapan kami itu baik menurutNya. Kesadaran inilah yang membuatku bicara baik-baik padanya, mengurangi intensitas berbincang bahkan dalam kebaikan. Kami sama-sama keras kepala, tidak mudah menyelesaikan rasa yang ada. Tapi niatku sudah bulat sempurna untuk men-zero-kan semuanya. Aku mau menyerahkan sepenuhnya kepadaNya. Tidak ada sedikitpun lintasan, "bisa saja bahwa Allah akan menjodohkan aku dengannya." Aku benar-benar serahkan sepenuhnya pada Allah, tanpa sedikitpun ada lintasan harapan ini atau itu. Segala hal tentang laki-laki impian, dia yang pernah ada di hatiku, dia yang pernah begitu sempurna bagiku dan sebagai impian, aku letakkan. 

"Sudah ya Allah aku serahkan semuanya. Perasaan cinta yang aku miliki ini anugrahMu, aku kembalikan kepadaMu, terserah apa mauMu. Jika di dunia ini Engkau beri aku jodoh, aku yakin itu terbaik dariMu, mampukan aku menjadi istri dan hambaMu yang baik dan benar. Jika Engkau tidak berkenan aku menikah di dunia ini, mampukan aku melewati sisa usiaku ini dengan segala keridhoanMu." 

Apakah mudah aku melewati semua? Tidak! Terlebih tentang rasaku padanya. Airmataku sering tumpah tanpa permisi demi sebuah kesedihan dan kebahagiaan yang biasanya kubagi dengannya. Aku tahu diapun merasakan hal tidak berbeda. Tapi aku terus berusaha untuk meletakkan semua pada tempatnya, demikian juga dia. Pada akhirnya kami sama-sama tau bahwa semua akan tetap baik-baik saja. Hal serupa tidak hanya kulakukan padanya, tetapi juga kepada orang-orang yang selama ini bisa dikatakan dekat denganku. Aku mencoba menghindar, lebih tepatnya menjaga jarak, mengambil jedah untuk melihat bahwa ada banyak hal yang tidak selalu harus kulakukan bersama mereka. Seperti di awal aku sampaikan, bahwa aku semakin tidak ingin dikenal dunia. 

Kemudian aku bertemu dengan orang-orang yang pernah kukenal di masa lalu. Betapa kehidupan ini berjalan dan banyak proses terlewati. Roda terus berputar dan aku harus bersyukur untuk sekian kalinya, ketika melihat bahwa ada banyak luka dialami oleh rang-orang di masa lalu itu. Aku harus lebih baik, itulah yang kuniatkan setelah pertemuan dengan mereka itu. Semua kondisi rasanya mendukung perubahan yang kurencanakan. Termasuk pandemi (covid19) telah menjadi salah satu titik yang ikut meningkatkan rasa berserahku kepadaNya. Hingga aku merasa ucapan orang apapun tentang statusku sebagai perempuan dewasa yang single (mereka menyebutku perawan tua) hanya serupa senyuman yang tulus saja. Titik perubahan dalam diriku, semakin kutingkatkan ke arah zero want and Allah saja.

Nah, sekarang kembali kepada awal tulisan sekaligus judul yang ada, tentang Dalail Khairat. Sejujurnya aku memang baru mengenal kitab tentang kecintaan kepada Nabiyullah Muhammad SAW ini sekitar bulan Agustus-September tahun 2020 lalu melalui seorang Ustaz muda dari Banjar, yang kami lebih sering menyebutnya Tuan Guru (TG) Dr. H. Miftahurrahman El Banjary, MA. Ketika membaca fadzilat yang ada jika mengamalkan Dalail Khairat, aku tersenyum mengingatkan diri agar tidak jatuh pada selainNya. Aku menata niat untuk belajar kitab ini dengan mengambil sanad dari beliau, supaya ilmu yang aku miliki punya arti dan InsyaAllah membawa keberkahan. Keyakinan ini memang sudah terpatri sejak aku kecil berada di pesantren. Bahwa sanad keilmuan itu sangat penting dalam proses kebermanfaatan dan keberkahan ilmu yang kita miliki (aku meyakini itu, maaf jika ada yang berpandangan berbeda). Hal menarik awal ya tentang sanad keilmuan ini, sehingga aku memenutuskan membeli kitabnya yang ternyata ada bimbingan langsung dari beliau untuk mendapat pengijazahan. 

Semakin aku tahu tentang keutamaan membaca Dalail Khairat semakin aku berusaha untuk tidak jatuh kepada selainNya. Aku sangat takut ada lintasan 'karena Dalail Khairat...' padahal semata semua yang terjadi adalah kehendakNya. Aku mengikuti bimbingan TG. Miftah hingga proses pengijazahan. Ada perasaan bahagia yang sangat ketika aku benar-benar mendapatkan sanad keilmuan itu. Sangat banyak pengetahuan yang aku dapatkan selama proses bimbingan ini dari beliau. Semoga Allah ridho dengan menjadikan apa yang aku miliki bermanfaat bagiku, orang lain dan bagi semesta ini. Terima kasih Tuan Guru Miftah. 



Lalu, ada kejadian luar biasa setelah aku mulai bersungguh mengamalkan (membaca) Dalail Khairat karya Imam Sulaiman Al Jazuly ini. Dan...aku masih selalu takut jatuh kepada selainNya, sehingga setelah sekian waktu kejadian luar biasa itu berlalu aku baru bisa menuliskannya ini. Semua akan kukembalikan kepada yang berkenan memahami apa yang kusampaikan. Semua adalah kehendakNya, aku bertemu TG Miftah dan menerima ijazah DK adalah kehendakNya, pun tentang kebahagiaan yang kurasakan ketika berasyik masyuk dengan DK adalah kehendakNya semata. Mustahil semua terjadi tanpa kehendakNya, sehingga semoga pengalaman yang akan kutulis di bawah ini tentang DK tidak membuatku jatuh kepada selainNya.

Setelah pengijazahan aku mulai membaca DK secara rutin karena ini seperti dzikir harian saja yang kubaca selepas membaca Al Quran. Aku melakukannya setiap ba'da Subuh. Sejak awal mengikuti bimbingan dan mengetahui tata cara membaca DK, perlahan aku sudah membacanya. Semakin yakin ketika mendapat sanadnya dari Tuan Guru. Doa setelah membaca DK adalah doa yang sejak awal meporak-porandakan sisi kehambaanku. Bahkan sebelum aku mendapatkan ijazahpun aku selalu tidak mampu menahan air mataku untuk tidak tumpah. Entahlah selama ini juga aku selalu berdoa kepadaNya, selalu menangis dalam sujud-sujud panjang malamku. Namum doa setelah membaca DK ini semakin membuatku "emosional." Aku butuh sekian waktu untuk "meredakan diriku" setelah membaca doa ini. Tata caranya yang harus dibaca bukan hanya saat khatam membaca DK, namun setiap selesai membaca dzikir harian tentu membuatku setiap hari jatuh dalam kepasrahan yang tinggi hanya kepadaNya. 

Perlahan sholawat harian yang aku baca juga membuat kondisiku tidak jauh berbeda seperti membaca doanya. Kerinduan kepada kekasihNya, menyadari diri bahwa mengaku mencintai kekasihNya tapi belum sempurna mengikuti sunnahnya. Setiap hari membuatku malu tapi rindu kepada kekasihNya. Karena kitab DK yang aku pegang juga dilengkapi dengan terjemahan, tentu semakin memudahkan aku memahami semuanya. Perlahan pula...aku merasakan ketenangan yang samakin dalam, senyum yang kian sempurna, pun kondisi-kondisi lain secara umum membaik. 

Target-target perubahan yang kuniatkan sejak awal seperti begitu dimudahkan oleh Allah. Silaturahim yang 'terhalang' karena pendemi (vocid19) pun ternyata bisa kulakukan dengan baik. Ibadah-ibadah yang ingin kutingkatkan juga mudah kulakukan, termasuk rasaku padanya. Kami seolah menjelma menjadi manusia penuh keindahan. Tidak ada rasa yang membuat kami semakin lemah, justru kami seolah semakin baik dalam banyak sisi. Pada akhirnya kami pun bisa tersenyum saling meningatkan untuk terus memohon ampun atas harapan kami sebelum ini yang seolah mendikte Tuhan agar mengikuti kemauan kami, hambaNya yang lemah ini. Pandemi yang "menghanguskan" banyak sisi kehidupan tidak membuat kami ikut hangus. Titik inilah yang membuat kami terus meningkatkan rasa syukur. Aku merasa ada banyak hal yang begitu mudah melembutkan hatiku, tenang. 

Ketenangan yang semakin dalam ini banyak membawa efek baik dalam hidupku. Ketika ada seorang laki-laki yang datang dengan segala niat baiknya untuk memperistriku ini pun yang aku minta dariNya. Aku mau Allah memberiku ketenangan/ketentraman jika memang laki-laki ini baik bagi dunia akhiratku. Bagaimanapun aku masih manusia dengan segala kelemahanku. Llintasan harapan tentang pernikahan impian tetap saja hadir ketika melihat kenyataan siapa yang Allah hadirkan di depanku. Laki-laki yang aku tau saat menempuh pendidikan sarjana tapi tidak kukenal dengan baik terlebih kehidupannya selama ini. Bahkan rasa takut sempat menderaku karena laki-laki ini sebelumnya mengalami "kegagalan" dalam membangun rumah tangganya. 

Pada titik inilah aku selalu mengingatkan diriku  untuk kembali kepada niat dan kepasrahanku kepadaNya. "Katanya kau mau ngikut apa maunya Allah, Jazilah. Minta diberi jodoh yang datang kepadamu bukan karena sisi materi yang ada dalam dirimu. Laki-laki yang melihatmu secara utuh sebagai muslimah, hambaNya dengan segala lebih kurangnya." 

Dalam "kegalauan" aku masih sempat bertanya kepada laki-laki yang dekat denganku sebelumnya. MasyaAllah...ternyata dia begitu sempurna mengingatkan aku akan makna kepasrahan. Dia bertanya sambil mengingatkan tentang harapan-harapan kami, terlebih harapanku sebelum ini. "Kamu InsyaAllah muslimah yang baik, Jazilah...jadi yakinlah dia yang datang kepadamu juga laki-laki terbaik bagimu yang dipilihkan Allah untuk kebaikanmu." Ucapannya itu sungguh membuatku sadar, ada banyak hal dalam hidup ini hanya diawali dengan "penerimaan" yang tulus ikhlas akan membuat semua menjadi baik dan membahagiakan. 

"Aku mungkin baik di matamu, tapi bagi Allah aku bukan yang terbaik untukmu, demikian juga kamu terhadapku." ucapannya sungguh menentramkan. Ya, apa yang didasari ketulusan dan karenaNya semata memang akan sangat terasa energi baiknya. Aku tetap bersyukur sekian waktu ada dia bersamaku yang "mendampingiku" untuk istiqomah dalam kebaikan. Segala doa baikku akan selalu ada untuknya. 

Akhirnya aku menikah dengan laki-laki sederhana yang pernah aku tau (sedikit karena kami berada di kampus yang berbeda) semasa kuliah itu. MasyaAllah...sungguh benar ada banyak hal yang terus aku syukuri setelah menikah. Allah seperti menjawab doaku satu persatu. Allah membuat hatiku lebih mudah menerima ketetapanNya. Aku yang dikenal selalu mengandalkan logika, mulai bisa menyeimbangkan semuanya. Apapun kata orang tentang pernikahanku, ternyata tidak sedikitpun membuat hatiku resah. Aku merasakan ketentraman luar biasa setelah kusampaikan bahwa aku menerima lamarannya. Tidak ada rasa takut, karena aku belum mengenalnya. Ya, mungkin karena semua kuawali dengan menyerahkan segalanya padaNya, maka aku pun yakin jika ada apa-apa Allah pasti akan memudahkan menyelesaikan semuanya. Pernikahan sederhana itu terjadi dengan banyak senyum bahagia mereka yang mencintaiku. 

Apakah semua  yang terjadi di atas karena Dalail Khairat? Tentu karena Allah semata. DK adalah salah satu "alatku" untuk mendekat kepadaNya melalui kecintaan dan rasa rinduku kepada Rosulullah Muhammad SAW. Bukan karena DK aku mendapat semua kemudahan, tapi karena Allah yang memudahkan semua. Membaca DK membuat hatiku semakin dilembutkanNya untuk menerima hal baik. Itulah yang harus kusyukuri dalam hidupku. Nikmat iman islamku ini adalah karuniah besar dariNya untukku.  Semoga Allah selalu ridho pada segala yang kulakukan di dunia ini sebagai bekal hidup abadiku di akhirat kelak. 

Satu hal lagi semoga aku bisa istiqomah membaca DK, karena kerinduan dan kecintaanku kepada KekasihNya sangat istiqomah. Juga karena: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi. hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan penghormatan kepadanya." (AlQuran: Al Ahzab:56) 

Wallahu'alam bishowab



0 Comments