Dua bulan tepat setelah aku mengikuti Kelas Inspirasi Pacitan, aku kembali bertemu anak-anak hebat di SDN Wanagiri 3, Sukasada Buleleng Bali pada 4 Mei 2019 . 

Kali pertama mendaftar memang serius untuk mencoba apakah aku akan lolos di Bali? Tidak begitu memperhatikan ternyata Hari Inspirasinya berdekatan dengan Ramadhan. Form pendaftaran agak berbeda dari sebelumnya karena aku harus membuat lesson plan terlebih dahulu. 

Ketika pengumuman dan aku dinyatakan lolos, aku baru membuka kalender dan sangat terkejut karena sehari seteleh Hari Inspirasi, kami umat islam akan menjalankan ibada puasa Ramadhan. Tapi niat awal sudah kutata, jika memang terpaksa aku akan menjalankan awal ramadhan di Bali. 

Kupersiapkan tiket travel dan pesawat untuk pulang. Koordinasi di group dan ada informasi wilayah tempat kami menginap nanti bersuhu cukup rendah. Aku sedikit khawatir dan kusampaikan kekhawatiran itu kepada panitia. Persiapan panitia cukup rapi sehingga aku tidak perlu khawatir masalah istirahat agar aku tetap terjaga sehat. 

Perjalanan panjang dengan travel yang diawali drama kemacetan di Surabaya, membawaku pada seorang sahabat yang menerimaku dengan baik sebelum aku bertemu dengan relawan lainnya untuk besiap berangkat ke lokasi yang memang cukup jauh dari Denpasar. Ya, kelas Inspirasi Bali 3 ini berada di Kab. Buleleng. Kami berangkat menjelang malam, sehingga cukup malam ketika sampai penginapan. Ternyata lokasi sekolah masih jauh dari penginapan yang itu artinya kami harus bersiap lebih pagi untuk sampai di lokasi. 

Benar, udara cukup dingin untuk ukuranku yang biasa hidup di kota Surabaya yang terkenal dengan "kehangatannya". Sedingin apapun cuaca jika hati kita hangat, maka semua akan baik-baik saja. Itulah yang terjadi padaku. Aku bertemu teman-teman (relawan) yang baik. 

Sesampai di sekolah, matahari pagi begitu hangat dan kedatangan kami bersamaan dengan anak-anak yang saat itu mengenakan pakaian adat bali. Aku tertegun sesaat melihat keindahannya. 
"Saat Tilem anak-anak mengenakan pakaian adat untuk melakukan sembahyang, Mbak." jelas fasilitator. 
Jadi biasanya mereka juga mengenakan seragam SD sebagaimana yang kukenal selama ini. Jadi hari itu, kami semua tersenyum senang karena merasa bahwa "kebetulan" yang kami hadapi ini sungguh indah. Anak-anak mengenakan pakaian adat dengan sandal mereka, bukan sepatu. Biasanya aku suka sekali memperhatikan sepatu yang dikenakan anak-anak di sekolah yang aku kunjungi. Untuk kali ini aku hanya bisa tersenyum melihat kesederhanaan yang disuguhkan. 

Aku melihat prosesi sembahyang yang dilakukan di area depan (dekat gerbang) sebagai tempat ibadah. Aku memperhatikan khusuknya anak-anak menjalankan ibadah tilem. Ya, Tilem adalah ibadah yang dilakukan saat bulan tidak tampak atau awal bulan. 

Setelah semua prosesi sembahyang selesai barulah kami memalui pembukaan Kelas Inspirasi dengan apel pagi bersama semua murid, guru dan relawan untuk selanjutnya mulai mengenalkan profesi kami di kelas. 

Anak-anak yang halus, lembut kutemui di sekolah ini. Sebuah pengalaman berbeda dari sebelumnya. Keteduhan dan ketajaman mata mereka seolah bisa menembus batas-batas nurani yang bisa menghadirkan kehangatan tersendiri saat bertatapan dengan mereka. 
Cita-cita sederhana yang mereka sampaikan, pun dengan alasan yang cukup sederhana untuk alam semesta. 
Sungguh saat mendengar jawaban mereka ketika kutanya "mengapa ingin menjadi....?" 
Sebuah jawaban yang luhur kudengar dari bibir cantik mereka, dan itu cukup membuatku mengerti untuk sekadar memberi mereka semangat. 
Aku belajar banyak dari ketenangan mereka, dan aku hanya bisa menyampaikan sedikit pesan-pesan untuk kelak ketika mereka menjadi seperti apa yang mereka inginkan. 
Sekadar mengingatkan "kunci sukses" yang kubagikan pada mereka. 


Saat di Wanagiri ini, aku mengenalkan alat berat melalui gambar di tablet kepada anak-anak. 
Bersama bapak Kepala Sekolah dan semua guru. Tidak da guru perempuan kan? Kenapa coba? Jika ingin tahu, datanglah ke Wanagiri dan bertanyalah kepada bapak kepala sekolah. 
Merekalah "SOBAT KAYAKU" , keluargaku di Bali. Kami di depan gedung perpustakaan SDN WANAGIRI 3 yang belum optimal digunakan. 

Anak-anak kelas 6 memang sudah tumbuh meremaja. Khas remaja Bali yang anggun dengan senyum cerahnya. Aku sukaa....

Senyum mereka...energinya indah

Anak-anak berdoa saat upacara. 

Bersama anak-anak dan Kepala Sekolah menerima bibit tanaman sebagai kenangan, bahwa kami pernah hadir di sekolah ini. Pohonnya langsung ditaman ya...
Ohya, di SDN Wanagiri 3 ini, aku melihat atap sekolah masih menggunakan seng bukan genting seperti hampir semua sekolah di Jawa yang kutemui. Bahkan batas antar kelas masih menggunakan sesek. Tahu sesek kan? Bukan gedhek lhoya...

Sobat Kayaku 

Rombongan belajar di SDN Wanagiri 3 ini, memang luar biasa. Foto-foto di bawah ini adalah kebersamaan kami seteleh mengikuti refleksi. Kami datang cukup terlambat di lokasi refleksi karena sebenarnya kami diantar terlebih dahulu oleh pihak sekolah ke sebuah tempat wisata air terjun yang memang sangat dekat dari sekolah. Kami main ke sini dulu hehehe 



Cantik sekali kan? Tapi perjalanan menuju tempat ini lumayan menguras tenaga. Kalau sudah cukup usia dan tidak pernah olahraga, jangan coba-coba ya..


Kami pun membawa oleh-oleh makanan yang diberikan oleh pihak sekolah. Entah bagaimana cerita awalnya, saat refleksi itu rombongan kami disebut dengan sebutan "SOBAT KAYA". Aku yang sibuk melihat foto di belakang dan bersama relawan lain bikin "laporan" kegiatan untuk disampaikan tidak tahu menahu asal dari sebutan itu. Atau mungkin istilah itu sudah melekat pada salah satu relawan di rombonganku, sehingga kelompok kami ikut disebut sebagai sobat kaya. Sepertinya sih begitu...



Setelah refleksi acara yang tidak boleh dilewatkan adalah foto bersama. Kebetulan di belakang tempat refleksi ada kebun bunga Matahari yang mulai mekar (belum mekar sempurna). Satu dari kelompok kami menemukan jembatan kecil yang bisa digunakan untuk menyeberang, karena antara lokasi refleksi dan kebun itu dibatasi oleh parit yang cukup besar dan dalam walaupun dalam kondisi kering. Jadilah kami bersama menuju seberang melewati jembatan darurat yang ada di ujung tempat refleksi. 

Foto di atas ini adalah ketika kami sudah menyeberangi parit dan kameranya yang terkonect dengan handphone terputus. Juga ingin mengambil boomerang sebagai kenangan kebersamaan. Walhasil, satu dari relawan mengusulkan iphonenya dilempar ke seberang. Teriakan histeris kami dan juga relawan lain  di seberang yang menyaksikan kami akan melempar iphone sungguh sebuah nada yang cukup harmonis sebenarnya. 
Sungguh kejadian luar biasa yang memang jika direnungkan, sebenarnya apapun itu jika kita tidak terlekati olehnya, kita akan biasa-biasa saja melihatnya. 

Karena masih ragu, ada yang berusaha memasukkan Iphone ke tas kamera untuk dilempar bersama. Iphone selamat sampai seberang dan bisa mengambil beberapa foto (boomerang) . Ketegangan di seberang berangsur meredah ketika melihat Iphone baik-baik saja, kamipun bernafas lega. 

"Duh...benar-benar sobat kayahhhh ini...Iphone dilempar-lempar!! kurang kaya apa coba!!!" teriak relawan lainnya. Kami tertawa di senja itu dalam hangat kebersamaan. Matahari senja tersipu, bunga matahari di belakang kita tersenyum indah. Hatiku hangat. 

Ya, kami memang sobat kaya...karena bagiku siapapun yang menjadi relawan itu...adalah orang kaya. Kalau tidak kaya tidak mungkin menjadi relawan. Relawan itu...jiwa-jiwa indah yang kaya kebaikan dalam dirinya. Kami tidak perlu malu atau sombong ketika disebut sobat kaya...karena sejatinya semua relawan itu KAYA. 

Bali...semoga kelak ada kesempatan lagi untuk menjadi "sobat kaya" bagi anak-anak di pulau Dewata ini... Aamiin.




#Foto di blog ini adalah karya fotografer di rombel SDN Wanagiri 3 (Fany, Bli Komang, Rian, Neko, Ilham)

Perjalanan Pulang, Bali...aku akan kembali.

Hari sudah cukup sore (menjelang malam) ketika kami sampai Denpasar. Aku harus segera melaju ke bandara karena jadwal penerbangan yang hanya satu jam kemudian harus check in.
"Jangan naik taxi, atau taxi online, pakai ojek online saja karena ini akhir pekan akan macet dimana-mana." berbagai pesan kuterima dari banyak relawan.

Aku mengikuti saran mereka dari Denpasar kota menuju bandara menggunakan ojek online. Bersyukur bapak ojek juga mengerti jika aku bukan warga lokal (jadi tidak tahu jalanan Denpasar)  dan kuberitahu itu kali pertamaku sendirian ke Bali dan pulang dengan pesawat. Beliau mencari jalan tercepat untuk sampai bandara.

Ternyata turun dari ojek aku harus jalan kaki lumayan jauh untuk masuk bandara. Ya, setidaknya aku sampai tepat waktu. Aku memutuskan untuk bersih diri di bandara sebelum check in karena jalan menuju bandara cukup mengeluarkan keringat. Setelah siap, aku kira akan dekat saja masuk check in dan ruang tunggu. Hahaha....jaauuuh saudara! Harus jalan kayak muterin bandara, hanya saja di lantai atas dan sejuk.

"Sendok garpunya tidak ada pisaunya? Biasanya kan satu set itu?" tanya petugas saat tas ranselku keluar dari alat scanner. Aku sesaat kaget dan baru ingat jika di ranselku ada alat makan.
"oh iya, Pak. Saya hanya bawa sendok sama garpunya saja karena memang tahu tidak akan lolos  di bandara. Alat makan ini sangat saya butuhkan saat kegaitan seperti ini."
"Oh, ada kegiatan apa di Bali?"
"Kalas Inspirasi, Pak, di Wanagiri Sukasada."
"Apa itu kelas inspirasi?"
"Kelas inpsirasi itu kami para profesional berkesempatan mengajar anak-anak dan mengenalkan profesi kami dalam sehari saja. Kayak Bapak gini juga bisa mengenalkan profesi ke anak-anak, memotivasi anak-anak agar terus sekolah. Seperti itu kira-kira."
"Wah baguslah. Bisa dicoba kapan-kapan. Ini mbaknya kerjaannya apa?"
"Saya dari asosiasi pengusaha konstruksi, Pak. Bapak cari saja info tentang kelas inspirasi di internet ya..."
Kami tersenyum dan aku pamit karena di belakangku ada antrian orang untuk mengambil barang mereka.

Sesaat aku sudah berada di ruang tunggu, duduk dengan pesaraan lega bahagia juga kaki yang cukup pegal. Alhamdulillah...sejam kemudian, aku sudah memasuki Surabaya dengan sejuk Sukasada Buleleng yang masih terasa.

Eh, mau tahu keseruan kami bersama adik-adik di SDN Wanagiri 3, simak video ini ya...



#SetahunIkut KelasInspirasi #KelasInspirasiBali6

1 Comments

  1. No matter what your manufacturing necessities, you need to be aware of|to concentrate on|to listen to} the professionals and cons of utilizing 3D printing for producing your elements. Sintered together with a strong laser and Pencil Sharpener is an efficient selection for creating both practical and spare elements. From aerospace and power products to electronics and automotive items, we’re proud to ship immaculate 3D Printed elements for any and each industry. 3D Printing produces durable and impact-resistant elements may be} appropriate for a large number} of prototype testing or end-use applications, and ready to|and able to} delight. Delivering world-class SLA, SLS, FDM, MJF and DMLS 3D Printed elements in as little as 3 days.

    ReplyDelete