Jengkol? Ah...makanan apa itu?! Seperti yang aku baca jengkol itu mengandung zat besi dan protein, ternyata juga mengandung kalsiun dan fosfor juga banyak mineral lain yang berguna untuk kesehatan kita. Ada banyak manfaat jika kita mengkonsumsi jengkol, tentu dengan tidak berlebihan. Namun aromanya yang khas (bisa dibilang kurang sedap) selayaknya pete itu membuat tidak semua orang menyukainya. Jika sekadar masalah aromanya yang kurang sedap itu tentu bisa disiasati dengan cara pengolahan yang baik dan benar agar bisa mengurangi aroma tidak sedapnya sehingga bisa dinikmati dengan bahagia. Namun, jika sudah menyangkut gengsi atau lainnya....tentu kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai jengkol apalagi menimatinya. 

Januari 2016 yang lalu, artinya sudah 5 tahun lebih ya...aku pernah menulis di blog ini tentang jengkol impian. Tulisan ini ternyata...paling populer dari semua tulisan di blogku. Dilihat beberapa ribu padahal tulisan lainnya mencapai ribuan atau di bawah seribu saja. Tentu saja tulisan tahun 2016 itu adalah keseruanku karena kali pertama bertemu dan memasak jengkol. Kalau mau baca ini linknya ya....Jengkol Impian

Kali ini tentu bukan kali kedua aku bisa menikmati atau memasak jengkol sejak tahun 2016 itu. Setelahnya aku sudah cukup sering memasak, walaupun tidak ada teman untuk menikmatinya. Aku sekadar masak secukup yang aku inginkan saja. Nah, setelah pindah ke kota Madiun, ini kali pertama aku melihat jengkol di pasar. Ya, saat ini sepertinya sedang musim jengkol karena harganya cukup murah sekilo hanya 20 ribu saja. Secara kebetulan suamiku ternyata juga menyukainya, sehingga aku semakin bahagia saja karena ada teman menikmati masakanku. 

Beberapa hari yang lalu aku membeli 500 gr jengkol seharga 10 ribu saja. Tentu pengalaman awal memasak jengkol pada tahun 2016 lalu tetap menjadi pengalaman sekaligus guru terbaikku untuk masak jengkol selanjutnya. Tentu untuk kali ini juga aku tetap dengan metoda awal yang kukenal. Prosesnya tentu tidak berbeda dengan sebelumnya hanya cara perebusannya yang berbeda karena pengetahuan baru yang aku miliki. Tahun 2016 lalu aku belum mengenal metoda merebus 5.30.7 sehingga aku masak jengkol cukup lama sampai cukup empuk. Kali ini tentu berbeda, setelah menggunakan metoda merebus 5.30.7 itu, membuatku hemat banyak waktu dan juga LPG. hehehe

Kali ini aku akan menuliskan tahapan aku memasaknya ya, antara lain:

1. Sortir jengkol yang baru dibeli, pilih yang baik. Biasanya ada yang rusak, lebih baik dibuang saja dari pada mengotori lainnya. Kemudian belah menjadi dua dan ini opsional saja karena bisa juga tanpa harus dibelah (dibiarkan utuh) 


2. Rendam jengkol dengan air bersih sampai benar-benar terendam dengan baik dengan wadah tertutup. 

3. Masukkan jengkol yang sudah direndam dalam wadah tertutup itu kedalam lemari pendingin (kulkas) semalam. 

4. Keluarkan jengkol dari kulkas dan cuci bersih. Pada tahap ini, kita akan tahu bahwa aroma jengkol itu sangat menyengat (kurang sedap). Bagi yang kurang suka, bisa bikin pusing. Makanya dicuci bersih ya, kemudian tiriskan. 

5. Rebus air secukupnya (sekiranya jengkol bisa terendam dengan baik) dengan  7 lembar daun salam (aku menggunakan 7 lembar daun salam untuk 1/2 kg jengkol, dan ini sesuai selera saja) sampai mendidih di panci yang ada tutupnya. Masukkan jengkol yang sudah ditiriskan tadi, aduk sebentar. Biarkan sampai mendidih kembali selama 5 menit. Setelah itu  (5 menit mendidih setelah jengkol dimasukkan) tutup panci dengan baik, matikan kompor dan biarkan selama 30 menit (jangan sekalipun dibuka sebelum 30 menit ya...ini sedang proses pematangan jangan dikacaukan karena ingin tahu).

6. Selama menunggu proses perebusan jengkol, bisa menyiapkan bumbu sesuai selera. Jengkol bisa dimasak selayaknya rendang daging, semur, sambal balado atau sekadar oseng-oseng cabe hijau juga enak. Kebetulan kali ini aku sudah punya persediaan bumbu rendang. Beberapa waktu lalu aku memang membuat stok bumbu rendang yang tidak hanya untuk memasak daging, tapi juga untuk sayuran misalnya nangka muda atau daun singkong. 

7. Setelah 30 menit, nyalakan kembali kompor dan rebus kembali jengkolnya hingga mendidih selama 7 menit saja. Bisa dicek, tingkat keempukan atau kekenyalan yang disukai. Karena setiap orang tentu mempunyai kesukaan yang berbeda pada tingkat keempukan makanan. Jika kurang empuk dalam waktu 7 menit tadi, bisa direbus lebih lama sampai dirasa cukup. 

8. Setelah empuk, segera tiriskan jengkol dan cuci kembali sampai bersih. Tahap ini sekaligus tahapan membuang kulit jengkol. Biasanya kulit akan mengelupas sendiri saat proses perebusan, dan jika ada yang masih menempel kita bisa menguliti dengan tangan atau pisau. Lakukan sampai selesai dan bersih dan sekali lagi cuci sampai benar-benar bersih. Di tahapan ini arona jengkol sudah tidak seperti kali pertama dikeluarkan dari kulkas setelah direndam semalam. Aroma yang ada lebih ramah karena pengaruh aroma daun salam. Sebenarnya, daun salam ini bisa diganti dengan lainnya seperti daun jeruk purut, atau sere. Aku sudah mencoba semua dan hasilnya memang baik, walaupun aku tetap lebih suka menggunakan daun salam yang aromanya lebih wangi. Jika menyukai aroma khas jengkol maka aku sarankan tidak perlu ditambah dengan daun salam atau lainnya saat perebusan. Biarlah tetap oroginal jengkol dengan aroma khasnya. Oke, disilakan ini opsional dan selera setiap orang tentu berbeda. 

9. Setelah dicuci dan ditiriskan kembali, geprak (geprek) jengkol agar memar. Ini dilakukan agar nantinya bumbu bisa meresap dengan baik saat proses mengolahnya. Mememarkan ini bisa dengan apa saja yang penting tujuannya tercapai. Hahaha.... pokoknya jengkolnya memar! 

10. Jengkol siap dimasak sesuai selera, setelah matang selamat menikmati.

Nah, itulah tahapan yang aku lakukan untuk memasak jengkol. Lalu hasilnya? Tentu aku saat ini mempunyai orang yang menjadi "tester" setiap masakanku, yaitu suamiku. Alhamdulillah beliau sangat menyukainya.


Apakah ada yang satu selera denganku? Kelurga republik jengkol dan kerajaan Pete? Kapan-kapan tukeran masakan ya... hehehe.

0 Comments